Jangan Lewatkan, Berpuasa di Hari Asyura Menghapuskan Dosa Setahun

298
Ilustrasi Puasa (Foto: Islam Kafah)

Muslim Obsession – Bulan Muharram disebut syahrullah yaitu bulan Allah, sehingga ia memiliki banyak keistimewaan. Salah satu yang paling istimewa adalah puasa di Hari Asyura atau hari kesepuluh di bulan Muharram.

Pada hari tersebut, orang-orang yang berpuasa akan mendapatkan keutamaan luar biasa. Keutamaan yang semestinya bisa membuat semangat orang-orang yang menginginkan kebaikan dari Allah subhanahu wa ta’ala. Apa itu?

Pertama, puasa di bulan Muharram adalah sebaik-baik puasa. Sebuah hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah – Muharram. Sementara shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR. Muslim no. 1163).

Hadits ini menginformasikan tentang keutamaan puasa di bulan Muharram secara umum, termasuk di dalamnya adalah puasa Asyura.

Kedua, puasa Asyura menghapuskan dosa setahun yang lalu. Hal ini diketahui dari hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ ». قَالَ وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ

“Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya mengenai keutamaan puasa Arafah? Beliau menjawab, ”Puasa Arafah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” Beliau juga ditanya mengenai keistimewaan puasa ’Asyura? Beliau menjawab, ”Puasa ’Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu,” (HR. Muslim dari Abu Qotadah Al Anshoriy).

Menukil Rumaysho, Imam Nawawi rahimahullah mengatakan bahwa yang dimaksudkan pengampunan dosa di sini adalah dosa kecil. Namun diharapkan dosa besar pun bisa diperingan dengan amalan tersebut. Jika tidak, amalan tersebut bisa meninggikan derajat seseorang. (Syarh Shahih Muslim, 8: 46).

Adapun Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berpendapat secara mutlak setiap dosa bisa terhapus dengan amalan seperti puasa Asyura. (Lihat Majmu’ Al Fatawa karya Ibnu Taimiyah, 7: 487-501).

Ketiga, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki keinginan berpuasa pada hari kesembilan (tasu’ah) dengan maksud menyelisihi tradisi Nasrani dan Yahudi yang mengagungkan Hari Asyura.

Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhuma berkata bahwa ketika Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam melakukan puasa Hari ’Asyura dan memerintahkan kaum muslimin untuk melakukannya, pada saat itu ada yang berkata, “Wahai Rasulullah, hari ini adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nashrani.”

Lantas beliau mengatakan, “Apabila tiba tahun depan –insya Allah (jika Allah menghendaki)– kita akan berpuasa pula pada hari kesembilan.” Ibnu Abbas mengatakan, “Belum sampai tahun depan, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam sudah keburu meninggal dunia.” (HR. Muslim no. 1134).

Hadits ini menganjurkan agar puasa Asyura ini dilakukan dengan lebih baik jika menambahkan puasa pada hari kesembilan (tasu’a).

Kenapa sebaiknya menambahkan dengan hari kesembilan untuk berpuasa? Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan, para ulama berkata bahwa maksudnya adalah untuk menyelisihi orang Yahudi yang cuma berpuasa tanggal 10 Muharram saja. Itulah yang ditunjukkan dalam hadits di atas. (Lihat Syarh Shahih Muslim, 8: 14).

Wallahu a’lam bish shawab. (Fath)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here