Jangan Khawatir, MSG Halal Kok!

335
MSG (Foto: LPPOM MUI)

Jakarta, Muslim Obsession – MSG sering menjadi bulan-bulanan media massa. Ada pihak yang pro, ada pula yang kontra. Zat yang menghasilkan rasa umami ini sebenarnya memiliki banyak penikmat.

Tak hanya di Indonesia, masyarakat di China, Taiwan, Jepang, Amerika, hingga Canada pun menyukai masakan dengan rasa umami. Sayangnya, MSG sering dicitrakan negatif.

Persatuan Pabrik Monosodium Glutamate dan Glutamic Acid Indonesia (P2MI) menemukan, munculnya artikel negatif tentang MSG dalam periode satu tahun, lima kali lebih banyak dari artikel positif. Tak jarang ditemukan, isi dari beberapa di antara artikel tersebut tidak dapat dipertanggungjawabkan keabsahannya.

Beberapa waktu lalu, masyarakat sempat dibuat heboh dengan munculnya broadcast yang menyatakan MSG, dengan dibuktikan melalui sebuah penelitian, memiliki kandungan babi atau turunannya.

Contoh berita negatif lainnya, beberapa media massa memberitakan konsumsi MSG dapat menimbulkan gangguan kesehatan, seperti penyakit migrain, jantung, hingga kanker.

Benarkah? M. Fachrurozy, Ketua P2MI, seperti dirilis LPPOM MUI, Rabu (11/12/2019) menyatakan bahwa penggunaan MSG aman dan halal. Dia merujuk pada kajian-kajian ilmiah di beberapa lembaga dan universitas.

“Jika ditinjau lebih dalam, penggunaan MSG justru bisa menurunkan risiko hipertensi. Hal ini karena penggunaan MSG memberikan rasa umami, yang mencukupi rasa asin dan gurih pada makanan. Dengan begitu, kita tidak perlu menambahkan garam lagi dalam masakan kita,” ujar Fachrurozy.

Hal ini didukung oleh Prof. Dr. Hardinsyah, Ketua Umum PERGIZI PANGAN Indonesia, yang menjelaskan bahwa kandungan MSG bukan berasal dari bahan kimia yang berbahaya. Melainkan berasal dari unsur zat gizi (protein), yaitu glutamat (78%) bebas dan alami, natrium (12%), serta air (10%). Kandungan natrium dalam MSG pun tercatat lebih rendah dari kandungan natrium yang ada dalam garam (40%).

Dr. Aru W. Sudoyo, Ketua Yayasan Kanker Indonesia, juga telah menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara kanker dengan konsumsi MSG. Hal ini berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Institut Kanker Amerika.

“Sebagai praktisi onkologi, boleh dikatakan tidak ada kaitan antara MSG dengan kanker. Adapun penyebab kanker yang utama berkaitan dengan gaya hidup,” paparnya.

Ia menambahkan, bahwa memang pada sebagian kecil masyarakat, MSG dapat menimbulkan chinese restaurant syndrome (CRS). Namun, beberapa peneliti, misalnya dari Klinik Mayo di Amerika Serikat, berusaha mencari hubungan yang jelas antara MSG dengan sindrom tersebut.

Pada akhirnya, mereka hanya bisa memberi saran agar MSG “tidak dikonsumsi secara berlebihan” dan tidak berbahaya. Food and Drug Administration (FDA) dan beberapa lembaga sejenis di berbagai negara, termasuk BPOM di Indonesia, menyatakan MSG aman untuk dikonsumsi.

Dari aspek kehalalannya, Fachrurozy menjelaskan bahwa produsen MSG yang tergabung dalam P2MI telah mengantongi sertifikat halal MUI. Bahan yang digunakan dalam pembuatan MSG, antara lain gula dan tetes tebu yang difermentasi menggunakan bakteri, sehingga menghasilkan glutamat.

“Kalau sudah ada sertifikat halal MUI maka tidak perlu ada keraguan lagi tentang kehalalannya,” ujar Fachrurozy.

P2MI merupakan asosiasi yang lahir pada 15 September 1971 ini didasari atas kepentingan untuk memajukan dunia usaha pangan, khususnya bahan tambahan pangan MSG dan turunannya di Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here