Jangan Angkuh dan Merendahkan Orang Lain

445

Oleh: Buya Mas’oed Abidin Jabbar/Buya HMA Majo Kayo

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ. قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً. قَالَ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kesembongan seberat biji sawi. Seorang laki-laki bertanya: ‘Ada seseorang suka bajunya bagus dan sandalnya bagus (apakah termasuk kesombongan?’ Beliau menjawab, ‘Sesungguhnya Allah Maha Indah dan menyukai keindahan. Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia’,” (HR. Muslim, 2749).

Pelajaran besar yang terkandung di dalam hadits ini adalah:

Pertama, jangan menolak kebenaran. Yaitu menjauh dan mengingkarinya dengan menganggap dirinya tidak memerlukan nasihat, merasa cukup dan merasa benar sendiri.

Perilaku yang nampak dia menyatakan bathil terhadap perkara yang telah Allah ‘Azza wa Jalla tetapkan sebagai kebenaran.

Kedua, sebagai muslim jangan menyerupai orang-orang Yahudi. Mereka mengetahui kebenaran, namun tidak mengikutinya.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman tentang orang-orang Yahudi Madinah yang enggan beriman kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam:

وَلَمَّا جَاءَهُمْ كِتَابٌ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَهُمْ وَكَانُوا مِنْ قَبْلُ يَسْتَفْتِحُونَ عَلَى الَّذِينَ كَفَرُوا فَلَمَّا جَاءَهُمْ مَا عَرَفُوا كَفَرُوا بِهِ ۚ فَلَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الْكَافِرِينَ

“Dan setelah datang kepada mereka Al-Quran dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka. Padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka laknat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu,” (Al-Baqarah [2]: 89).

Ketiga, ‘Ashabiyah (fanatisme kelompok/suku) sebagai sikap yang menyebabkan seseorang akan jauh dari kebenaran dan menjadikannya congkak dan angkuh.

Orang Yahudi dahulu mengetahui kebenaran sebelum munculnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berbicara dengan kebenaran dan mendakwahkannya. Namun, setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang kepada mereka, beliau berbicara dengan kebenaran.

Karena beliau bukan dari kelompok yang mereka sukai. Alhasil, maka mereka pun tidak tunduk kepada beliau, dan mereka tidak menerima kebenaran kecuali dari kelompok mereka.

Inilah di antara sifat-sifat buruk orang-orang Yahudi. Mereka tidak mau menerima kebenaran kecuali dari kelompoknya.

Keempat, watak buruk Yahudi akan menurun kepada siapa saja ketika sikapnya menolak kebenaran yang datang dari Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya.

Mereka menolak kebenaran karena datang bukan dari madzhab, organisasi, tempat  mengaji, kebiasaan masyarakatnya.

Padahal idealnya, sesuatu tersebut dianggap benar bila berdasar kepada firman Allah subhanahu wa ta’ala dan atau berdasar kepada sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا

“Yaa Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang halal, dan amal yang diterima”.

Semoga Allah selalu memberi kekuatan dan perlindungan bagi saudara kami yang sedang berjuang di jalan Allah. Aamiin Yaa Allah.

Selamat beraktifitas, semoga hari ini lebih baik dari hari kemarin.

Wallahu a’lam bis shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here