Jambore Nasional 5.000 Dai, Terobosan Dakwah Parmusi

2400
Sekitar 78 Dai dan Daiyah Parmusi bertolak ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah umrah. (Foto: Hilmi/Muslim Obsession)

Jakarta, Muslim Obsession – Jambore umumnya digunakan untuk gerakan Pramuka. Tetapi tidak demikian bagi Parmusi (Persaudaraan Muslimin Indonesia) yang pada 24-27 September 2018 akan menggelar Jambore Nasional 5.000 Dai Parnusi.

“Jambore ini digelar untuk menjalin ukhuwah para Dai Parmusi dari berbagai daerah, sekaligus memberikan bekal Manhaj Dakwah Desa Madani kepada para dai sebelum melaksanakan ekspedisi dakwah ke berbagai pelosok tanah air,” ujar Sekretaris Panitia Jambore Nasional Dai Parmusi Nurhayati Payapo, yang juga Ketua Umum Muslimah Parmusi.

Pasca Muktamar III Batam Maret 2015 lalu, yang berhasil melahirkan regenerasi kepemimpinan Parmusi dari Bachtiar Chamsyah dan Imam Suhardjo selaku Ketua Umum dan Sekjen periode sebelumnya (2008-2015) kepada duet kepemimpinan Usamah Hisyam dan Abdurrahman Syagaf (2015-2020), wajah Parmusi mengalami perubahan yang drastis.

Mukernas I Parmusi September 2015 memutuskan perubahan paradigma baru Parmusi dari sebelumnya political oriented menjadi dakwah oriented.

Parmusi tak lagi menjadi ormas eksklusif yang hanya menyiapkan kader-kader politik umat yang disalurkan melalui PPP, tetapi sudah mencanangkan tagline sebagai connecting muslim yang mempersiapkan kader-kader dakwah.

Bahkan dalam berbagai kesempatan Usamah Hisyam menandaskan, Parmusi secara institusi tak lagi melakukan kegiatan politik praktis (day to day pilitics) seperti periode sebelumnya, tetapi kader-kader Parmusi secara individu diperkenankan menjadi kader politik sesuai dengan aspirasinya.

Pro dan kontra sempat terjadi di lingkungan kader baik di pusat maupun di daerah. Namun duet kepemipinan Usamah-Syagaff bersikukuh paradigma baru Parmusi sebagai connecting muslim melalui jalur dakwah adalah jalan lurus yang diyakini kebenarannya untuk mewujudkan tujuan dan cita-cita organisasi, yakni mewujudkan masyarakat madani yang sejahtera lahir dan batin dalam bangsa Indonesia yang diridhoi Allah Swt.

Sikap tersebut akhirnya mendapat legitimasi Pimpinan Wilayah Seluruh Indonesia, bukan saja melalui Mukernas I, tetapi juga Mukernas II 2016 dan Mukernas III 2017 yang menetapkan program umum tahunan Parmusi.

Kendati demikian, dalam Rakornas Parmusi awal Juli 2018 lalu, mantan Ketua Umum Muhammadiyah Prof. Dr. Din Syamsuddin yang menjadi narasumber menyarankan, agar Parmusi mempertegas jati dirinya.

Ia mengungkapkan, sesungguhnya Parmusi adalah suatu organisasi yang resmi menjadi pelanjut cita-cita perjuangan Partai Masyumi, pemenang kedua Pemilu 1955 yanng dibubarkan pemerintah Orde Lama pada 1960. Di awal pemerintahan Orde Baru, eksponen Masyumi seperti Moh. Natsir, Moh. Roem, Prawoto, dan lainnya bersepakat mendirikan Parmusi (Partai Muslimin Indonesia) sebagai reinkarnasi Masyumi.

“Parmusi didirikan oleh 16 ormas islam sebagai wadah penyalur aspirasi umat Islam, termasuk ormas besar Muhammadiyah,” kata Din yang kini menjabat Ketua Dewan Pertimbangan MUI.

Pasca Pemilu 1971, Presiden Soeharto menetapkan regulasi penyederhanaan partai politik dari 10 partai hanya menjadi dua partai dan Golongan Karya. Partai-partai nasionalis dan kristen difusikan menjadi PDI, sedangkan empat parpol islam yakni NU, Parmusi, Perti dan PSII difusikan dalam PPP.

Sejak fusi tersebut Parmusi menjadi ormas Muslimin Indonesia yang dipimpin H. J. Naro. Baru pada 26 September 1999 Parmusi dideklarasikan kembali menjadi ormas Islam dengan nama Persaudaraan Muslimin Indonesia disingkat Parmusi.

“Di sini saya heran. Kalau persaudaraan kan seharusnya disingkat Permusi. Tapi ini tetap Parmusi, yang seharusnya berarti Partai Muslimin Indonesia,” kata Din seraya menyarankan kepemimpinan Usamah-Syagaff melakukan evaluasi.

Oleh karena itu, ia menyarankan Parmusi mempertegas identitas dirinya. “Kalau Parmusi harusnya menjadi Partai. Kalau maunya ormas Islam ya harus diubah menjadi Permusi,” gurau Din.

Ia menegaskan, senua iru dikembalikan pada cita-cita dan misi yang diemban. Namun Din mengingatkan, awal berdirinya Parmusi adalah wadah politik umat Islam. Kalau pun Parmusi telah bertekad tetap menjadi ormas, maka harus menhadi ormas sejati dengan berbagai programnya. Tak boleh setengah-setengah.

Menanggapi hal tersebut, Usamah mengakui, DNA kader-kader Parmusi adalah politik. Tetapi ia bersikukuh proses transformasi paradigma baru Parmusi dari poitical oriented ke dakwah oriented dalam tiga tahun terakhir sudah tepat dan semakin memperjelas ‘jenis kelamin’ Parmusi sebagai ormas Islam yang bergerak dalam dakwah islamiyah.

“Insya Allah Parmusi akan menjadi lebih besar dengan program dakwah Desa Madani,” ujar Usamah penuh keyakinan.

 

LDP: Kawah Pembinaan Para Dai

Memang, sejak dipimpinnya, Usamah menunjukkan konsistensi sikap. Pasca Mukernas I akhir 2015, Parmusi mendirikan Lembaga Dakwah Parmusi (LDP).

Ia merekrut mantan Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, KH. Syuhada Bahri untuk menjadi Ketua LDP, dan KH Ahmad Farid Ahmad Okbah sebagai Wakil Ketua, menyusul kemudian Ustadz Buchori Muslim dan Ustadz Bernard Abdul Jabbar. Dengan tim kecil itulah, langkah dakwah Parmusi dimulai.

“Saya mendapatkan berkah, bisa mengajak Ustadz Syuhada bergabung dengan Parmusi,” tandas Usamah.

Di bawah binaan KH. Syuhada Bahri, derap dakwah Parmusi mulai terasa. Perpaduan kepemimpinan Usamah yang memiliki kemampuan manajemen dakwah secara prima serta kepemimpinan KH. Syuhada Bahri yang sangat menguasai konten dakwah secara kaffah, memacu langkah dan program dakwah Parmusi untuk menjadikan dakwah sebagai suatu gerakan (harakah) berjalan cepat.

Dalam pembinaan dai, misalnya, dibagi dalam tiga kategori: Dai Pembina, yakni dai senior di tingkat pusat, wilayah, dan daerah yang bertugas membina dan mengarahkan konten dakwah, baik ilmu tauhid, fiqh, maupun tasawuf. Sedangkan Dai Pengelola adalah pimpinan pusat, wilayah, dan daerah yang bertugas melakukan manajemen dakwah. Adapun Dai Pelaksana adalah dai lapangan yang menjadi ujung tombak dakwah di setiap kecamatan.

Parmusi telah mencanangkan program, One District Five Dais, satu kecamatan minimal memiliki lima dai. Pada tahun 2020, Usamah menargetkan Parmusi telah memiliki 35.000 dai yang tersebar di 70.000 kecamatan di seluruh Indonesia.

“Tugas pokok para dai adalah membentengi aqidah umat, dengan berbenteng di hati umat,” ungkap KH. Syuhada Bahri.

Lebih dari dua tahun bergerak ke berbagai daerah, Parmusi menargetkan tahap pertama memiliki 5.000 Dai, yang akan diundang mengikuti Jambore Nasional Dai Parmusi tanggal 24-27 September 2018 di Gunung Gede Pangrango Cibodas, Cipanas, Jawa Barat, menyongsong Milad ke-19 Parmusi yang jatuh pada 26 September 2018.

Menurut Sekjen Parmusi, Abdurrahman Syagaf, dalam Jambore tersebut Ketua Umum Parmusi akan mencanangkan Gerakan Nasional Dakwah Parmusi, yang akan dilanjutkan dengan Ekspedisi dakwah para dai ke seluruh pelosok tanah air.

Tekad Parmusi menjadikan dakwah sebagai suatu gerakan boleh dibilang merupakan langkah terobosan dalam medan dakwah. Pasalnya para dai dipersiapkan melalui orientasi dan pelatihan, sebelum digerakkan bersama sama secara madih ke seluruh pelosok negeri. Apalagi Parmusi boleh dikatakan masih seumur jagung dalam mengurusi program dakwah.

“Untuk mewujudkan dakwah sebagai suatu gerakan, kami akan menggunakan Manhaj Dakwah Desa Madani yang khas Parmusi,” kata Usamah.

Manhaj Dakwah Desa Madani memiliki empat pilar utama, yakni meningkatkan imtaq, membangun kemandirian ekonomi, pemberdayaan sosial, dan kualitas pendidikan.

“Kami akan sosialisasikan empat pilar Desa Madani ini nanti dalam Jambore Nasional,” pungkas Usamah. (Fath)

 

Baca juga:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here