Jamaah Haji Indonesia Banyak Mabit di Luar Maktab

440

Makkah, Muslim Obsession  – Gelombang lautan manusia terus merangsek keluar masuk jalur lontar jumrah (jamarat). Ada yang datang untuk mabit ada pula yang balik dari haram.

Ribuan jamaah yang baru datang untuk memilih mabit di luar maktab yang ditetapkan menjadi persoalan tersendiri bagi petugas keamanan lokalan. Bolak-balik mereka ‘mengusir’ jamaah yang duduk berkelompok di sepanjang jamarat.

Tidak sedikit di antara yang harus menyingkir dari hardikan petugas merupakan jamaah haji asal Indonesia. Di depan pintu keluar jamarat arah Syisa banyak ditemukan jamaah yang mabit di jalan, trotoar, bawah jembatan, maupun emperan toko.

Seolah tidak peduli dengan larangan mabit di jalanan. Mereka sangat mahir mengelabuhi petugas. Saat petugas meminta mereka pergi mereka hanya geser tempat atau sedikit berjalan pindah ke tempat lain.

Raungan sirine dan aba-aba petugas berbahasa Arab, thariq ya hajj-thariq-thariq, tak mereka hiraukan. Begitu seterusnya sampai batas mabit selesai.

Begitu waktu mendekati pukul 24.00 waktu setempat jamaah haji mulai masuk ke lokasi lontar jumrah. Mereka akan melakukan lontaran hari kedua. Lontar ula, wustha, dan aqabah di tanggal 11 Dzulhijjah. Waktu itu dipilih karena di malam hari biasanya tidak terlalu ramai dan suhu lebih bersahabat.

Selepas lontar mereka tidak kembali ke maktab. Karena biasanya jamaah yang memilih mabit di depan pintu keluar arah Syisa merupakan jamaah yang hotelnya lebih dekat dan maktabnya cukup jauh di Mina Jadid.

Seperti Elif jamaah haji Lampung. Dia bersama rombongannya dari JKG-34 memilih kembali ke hotel meskipun harus bersusah payah menarik koper kabin miliknya.

“Kami memilih kembali ke hotel karena lebih dekat ke jamarat,” kata Elif menuju hotelnya di Aziziyah, sebagaimana dilansir PHU, Rabu (22/8/2018).

Sama halnya dengan jamaah Jepara asal kloter SOC-65 kembali ke hotel di Syisa. Saat ditemui di sekitar jamarat Selasa (21/8/2018) jelang tengah malam dia bersama istrinya berniat mabit sampai fajar.

“Mending saya tanazul karena tenda kami tidak muat juga toilet kurang representatif,” ujar pria Jepara yang enggan disebut namanya.

Kondisi tenda Mina memang selama ini menjadi keluhan jamaah. Space yang tersedia sangat terbatas sedangkan kuota jamaah Indonesia bertambah. Selain itu memang butuh inovasi penyediaan toilet yang lebih dari sisi kualitas dan kuantitas. (Vina).

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here