Jabatan dan Spiritualitas Kekuasaan

600

Spiritualitas Kekuasaan

Jabatan dan kekuasaan adalah dua media yang saling terkait. Saat seseorang memiliki jabatan, secara otomatis memiliki kewenangan-kewenangan tertentu yang disebut kekuasaan. Nah, bagaimana spiritualitas kekuasaan itu, berikut uraiannya:

Pertama, penguasa adalah “wakil” Tuhan di muka bumi. Jika kita lacak dalam referensi teologis, manusia di bumi adalah mandataris Tuhan (khalifah) yang mengemban tugas suci sebagai makhluk spiritual. Apalagi dalam posisi sebagai seorang penguasa (pejabat) yang memiliki banyak akses politik.

Guru besar UIN Jogjakarta, Abdul Munir Mulkhan, menyebut  kekuasaan itu bukan sekadar wilayah materiil untuk menduduki sebuah jabatan, seperti presiden, menteri, gubernur, bupati, wali kota, atau semacamnya. Akan tetapi kekuasaan yang memiliki kewenangan politik diperlukan ranah spiritual sebagai ruh, sebagai energi yang membuat kekuasaan menjadi dinamis, indah, memiliki vitalitas dan daya hidup, pengikat komunitasnya. Menurutnya, menduduki jabatan bukan untuk membungkam lawan politiknya atau orang-orang yang tidak disukai. Sebaliknya, kekuasaan adalah harmonisasi untuk menyatukan beragam komunitas bagi tujuan kemanusiaan yang lebih besar dari sekadar kepentingan fisik materiil.

Lalu muncul pertanyaan, bisakah seseorang yang sedang berkuasa dapat memberikan tempat bagi siapa pun, ruang untuk berteduh? Dalam konteks spiritual, seorang penguasa harus mampu menjadi pengayom semua elemen sosial, bahkan menjadi pelindung bagi kehidupan sekitarnya, termasuk lingkungan. Artinya, orang yang memiliki kekuasaan harus mampu mengarahkan apa yang dikuasai menuju kehidupan yang penuh dengan nilai-nilai spiritual dalam statusnya sebagai “wakil” Tuhan di muka bumi.

Kedua, amanah (kepercayaan) yang dimiliki penuh oleh seorang penguasa menyiratkan adanya hubungan keilahian. Secara kebahasaan, amanah berasal dari kata “amana” yang memiliki kesamaan makna dengan “iman” atau keyakinan. Jelas sekali, unsur spiritualitas amanah bagi penguasa sangat mendalam karena terdapat aspek keyakinan (keimanan).

Maestro sufi Jalaluddin Rumi menyebut amanah sebagai pemberian tanggung jawab, pilihan bebas, kemampuan manusia mengenal aspek-aspek ruhaniah dan mengembangkannya. Baginya, orang yang melupakan atau meninggalkan amanah berada dalam posisi yang berbahaya. Mereka seperti berlari mengejar ratusan perburuan yang berbeda, dengan tidak peduli pada pemberian Ilahi yang indah.

Karena itu, seorang penguasa yang mengingkari amanah berarti dia benar-benar meninggalkan pesan-pesan ilahiyah yang melekat pada dirinya. Selain sebagai manusia pribadi yang terlahir sebagai makhluk spiritual, juga sebagai pemikul kepercayaan tingkat tinggi di hadapan Tuhan yang harus dia pertanggungjawabkan di hari pembalasan.

Ketiga, keharusan malayani. Hakikat dari seorang penguasa atau orang yang memiliki akses terhadap kekuasaan adalah sebagai pelayan umat (khadimul ummah), bukan pembesar umat (sayyidul ummah). Tentu, agar memiliki jiwa pelayan, dibutuhkan hati yang melayani, hati yang cenderung untuk membantu pihak lain tanpa ada keinginan atau perasaan sebaliknya.

Di sinilah integritas diperlukan untuk aksi-aksi pelayanan para penguasa. Dalam hal ini, Islam telah memberikan panduan agar apa yang dibicarakan sesuai dengan apa yang yang dikerjakan. Salah satu ayat Alquran menegaskan: Kabura maqtan ‘indallahi antaquuluu maalaa taf‘aluun (Sangatlah besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan/QS As-Shaf : 3). Ini berarti seorang penguasa (pejabat) harus memiliki konsistensi antara apa yang dikatakan dengan apa yang dilaksanakan.

Terlebih saat musim kompetisi politik seperti tahun ini, banyak janji-janji yang disampaikan untuk memberikan pelayanan maksimal kepada rakyat, namun dalam praktiknya banyak pengingkaran terhadap apa yang pernah dijanjikan. Di sinilah jiwa melayani menempati posisi yang sangat tinggi dalam ranah spiritual. Tanpa ada unsur-unsur spirit atas apa yang dipikulnya, maka kekuasaan malah menjadi ajang untuk menodai janji, merusak komitmen, dan pengingkaran sebagai pelayan umat.

Maka, bagi para penguasa (pejabat), atau pihak-pihak yang dekat dengan akses kekuasaan, camkan baik-baik bahwa menduduki sebuah jabatan ibarat seperti berdiri di atas jurang bara api yang bisa menjerembabkan. Sebaliknya, bagi yang mampu bertahan, berdiri tegak dari segala ancaman dan godaan yang menggiurkan akan mendapatkan nikmatnya puncak spiritual saat bertemu dengan Tuhannya Yang Maha Tinggi.

1
2
BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here