Jabatan dan Spiritualitas Kekuasaan

481

Oleh: Thobib Al-Asyhar (Kabag Ortala, Kepegawaian, dan Hukum Ditjen Bimas Islam, Kementerian Agama RI)

Teori yang pernah diungkapkan oleh Lord Acton, seorang politisi Inggris abad 19: “power tends to corrupt and absolute power corrupts absolutely” (kekuasaan cenderung korup dan kekuasaan absolut korupsi secara absolut), bukanlah isapan jempol belaka. Ini nyata dan benar-benar warning bahwa kekuasaan itu memang memabukkan. Karenanya, seseorang bisa terlena. Karenanya, seseorang bisa lupa siapa dia sesungguhnya. Karenanya, seseorang bisa terjerembab ke lembah yang paling nista.

Hujjatul Islam, Imam Al-Ghazali, berpesan kepada para penguasa, seperti sultan, raja, presiden, gubernur, bupati, wali kota, atau siapapun yang memiliki akses kekuasaan agar hati-hati menggunakan kekuasaannya. Kekuasaan adalah sumber kekuatan yang bisa diarahkan untuk berbagai kepentingan. Melalui kekuasaannya, seseorang bisa melakukan apapun yang dia mau.

Dalam kitab Al-Tibrul Masbuk fi Nashihatil Muluk, Al-Ghazali memberikan catatan kepada para penguasa dengan mengutip sebuah hadits Nabi yang berbunyi,”Keadilan penguasa meski hanya satu hari lebih aku senangi ketimbang beribadah selama 70 tahun.”

Tokoh sufi abad 12 M ini sangat konsen terhadap pentingnya para penguasa berperilaku adil dengan tidak menyalahgunakan kekuasaannya untuk kepentingan pribadi atau kelompoknya. Bahkan, Al-Ghazali juga mengkritik keras koleganya sendiri, sesama ulama, yang sikapnya menjadi sebab kerusakan rakyat dan penguasa.

Ia berkata,”Kerusakan rakyat itu karena kerusakan penguasa, dan rusaknya penguasa itu karena rusaknya para ulama. Sementara rusaknya para ulama itu karena kecintaan mereka pada harta dan kedudukan. Siapa yang terperdaya akan kecintaan terhadap dunia, dia tidak akan kuasa mengawasi hal-hal remeh (kecil), bagaimana pula dia hendak melakukannya kepada penguasa dan perkara besar?” Hal ini diungkapkannya sampai dua kali dalam karya magnum opusnya, Ihya’ Ulum al-Din.

Perhatian Al-Ghazali terhadap para penguasa karena mereka memiliki kemampuan mengendalikan area publik. Posisinya sangat strategis sehingga perlu dikontrol, diingatkan, dan diberi warning secara terus-menerus agar mereka tidak lupa terhadap amanah yang dipercayakan di pundaknya.

1
2
BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here