Israel Tolak Rencana AS Buka Kembali Kedubes Yerusalem untuk Palestina

45

Muslim Obsession – Israel mengatakan pada Rabu (1/9/2021) bahwa rencana AS untuk membuka kembali konsulatnya di Yerusalem yang secara tradisional menjadi basis penjangkauan diplomatik ke Palestina adalah “ide yang buruk” dan dapat mengacaukan pemerintahan baru Perdana Menteri Naftali Bennett.

Pemerintahan Presiden Donald Trump sebelumnya mengisyaratkan dukungan untuk klaim Israel atas Yerusalem sebagai ibu kotanya dengan memindahkan Kedutaan Besar AS di sana dari Tel Aviv dan memasukkan konsulat dalam misi itu.

Itu adalah salah satu dari beberapa gerakan yang membuat marah orang-orang Palestina, yang menginginkan Yerusalem Timur sebagai ibu kota negara masa depan yang diharapkan.

Sementara itu, Presiden Joe Biden telah berjanji untuk memulihkan hubungan dengan Palestina, mendukung solusi dua negara dan bergerak maju dengan membuka kembali konsulat. Itu telah ditutup sejak 2019, dengan urusan Palestina ditangani oleh kedutaan.

“Kami pikir itu ide yang buruk,” kata Menteri Luar Negeri Yair Lapid pada konferensi pers ketika ditanya tentang pembukaan kembali. “Yerusalem adalah ibu kota berdaulat Israel dan Israel saja, dan oleh karena itu kami pikir itu bukan ide yang bagus,” ujarnya.

“Kami tahu bahwa pemerintahan (Biden) memiliki cara berbeda dalam melihat ini, tetapi karena itu terjadi di Israel, kami yakin mereka mendengarkan kami dengan sangat hati-hati,” ungkapnya.

Diminta berkomentar, Wasel Abu Youssef, seorang pejabat dengan payung Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), mengatakan Israel berusaha mempertahankan status quo dan memblokir solusi politik apa pun.

Kedutaan Besar AS tidak segera berkomentar. Israel menganggap seluruh Yerusalem sebagai ibu kota yang tidak terbagi – status yang tidak diakui secara internasional. Mereka merebut Yerusalem Timur, Tepi Barat yang diduduki dan Gaza dalam perang Timur Tengah 1967.

“Bennett, seorang nasionalis di atas koalisi lintas-partisan, menentang kenegaraan Palestina. Pembukaan kembali konsulat dapat mengganggu ketenangan pemerintah Bennett, yang mengakhiri masa jabatan perdana menteri jangka panjang Benjamin Netanyahu pada Juni,” ucap Lapid.

“Kami memiliki struktur pemerintah kami yang menarik namun rapuh dan kami pikir ini mungkin mengacaukan pemerintah ini dan saya tidak berpikir pemerintah Amerika menginginkan ini terjadi,” katanya.

Menurutnya, perpecahan di antara warga Palestina juga menimbulkan keraguan tentang prospek diplomasi.

“Saya sangat percaya pada solusi dua negara tetapi kita harus mengakui fakta bahwa ini tidak layak dalam situasi saat ini,” pungkas dia.

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here