Israel adalah Kanker Bagi Masa Depan Perdamaian dan Kemanusiaan

63
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir (Foto: Muhammadiyah)

Muslim Obsession – Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir mengaku prihatin dengan pasifnya mayoritas dunia internasional dalam memandang penjajahan modern yang kasat mata dilakukan gerombolan Israel kepada negara Palestina.

Keprihatinan Haedar terutama ketika narasi-narasi tentang kebaikan, perdamaian, persatuan dan keberagaman nyaring disuarakan oleh hampir seluruh tokoh di dunia.

“Apa yang dilakukan oleh Israel terhadap Palestina sesungguhnya merupkan satu bukti kita berhadapan dengan dunia modern yang masih diliputi oleh orang dan pihak dan kekuatan yang masih membawa paradigma lama dalam kehidupan dan peradaban maju sekarang ini. Yakni paradigma konflik, paradigma ekspansi, paradigma kekuasaan yang semuanya mengancam masa depan dan peradaban,” terang Haedar dalam seremoni Milad 104 tahun ‘Aisyiyah, Rabu (19/5).

Menurut Haedar, Israel adalah kanker bagi masa depan perdamaian dan kemanusiaan.

Mengutip dampak destruktif dalam relasi antara ketamakan dan kekuasaan manusia yang disampaikan oleh sejarawan Arnold Toynbee dan Noval Harari, Haedar khawatir respon pasif terhadap Israel hanya akan membawa kehancuran masa depan peradaban dan perdamaian. Haedar pun mengajak para tokoh untuk berani menyuarakan kebenaran.

“Bahkan juga untuk menyelamatkan peradaban bersama ketika ada para pihak kekuatan dan aktor-aktor yang masih membawa paradigma Nazisme, paradigma Hitler, paradigma predator yang menghancurkan peradaban dan memicu perang dunia pertama dan perang dunia kedua,” jelas Haedar.

Pengalaman Haedar bersama Ketua Umum PP ‘Aisyiyah Siti Noordjannah Djohantini ambil bagian dalam tiga konferensi perdamaian di Kazakhstan, Italia dan Spanyol, semuanya menyimpulkan bahwa masa depan perdamaian dunia menghadapi ancaman dari sekelompok orang yang merusak nilai-nilai persatuan dan kebaikan.

Oleh sebab itu, Haedar mendorong warga Persyarikatan terus menginternalisasi nilai dan pemahaman wasathiyah Muhammadiyah agar memiliki kesadaran moderasi dan tidak terseret arus oleh kekuatan kelompok fasad itu.

“Karena itulah perlu, kita keluarga besar Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah menanamkan nilai-nilai, norma-norma disertai dengan state of mind, alam pikiran yang mampu melintas batas untuk rekatnya persatuan sekaligus juga menyebarnya perdamaian dan kebaikan dalam kehidupan yang kita miliki bersama,” pesan Haedar.

“Spirit Islam rahmatan lil alamin, jiwa Islam berkemajuan, bahkan ‘Aisyiyah mmpelopori Wasathiyah Berkemajuan harus menjadi paradgima berpikir kita dalam milad ini agar berbagai ancaman yang bisa merusak persatuan kita sekaligus menghancurkan nilai-nilai kebaikan yang membawa pada kemajuan harus menjadi bagian dari nilai-nilai bersama kita di tubuh organisasi,” sambungnya.

“Saya percaya bawa kita keluarga besar Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah dengan pendekatan bayani, burhani, irfani, dan nilai Wasathiyah Berkemajuan akan terus kita gelorakan untuk merekat persatuan, menebar perdamaian dan menyebarluaskan peradaban berkemajuan,” pungkas Haedar.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here