Islamophobia dan Tanggung Jawab Dakwah di Barat

90

Oleh: Imam Shamsi Ali (Presiden Nusantara Foundation)

Dalam safari dakwah saya di beberapa kota di Kanada baru-baru ini, saya diminta memberikan materi yang sesungguhnya bukan baru. Tapi sebuah materi yang menjadi konsumsi setiap saat umat di belahan dunia Barat.

Islamophobia adalah isu yang memang seolah menjadi bagian dari darah daging kehidupan umat, bahkan seolah sesuatu yang telah “destined” (ditakdirkan) oleh keputusan samawi. Sehingga kerap kali menyikapinya menjadi seolah meyikapi peristiwa hidup yang lumrah.

Why Islamophobia?

Pertanyaan pertama barangkali yang timbul di benak semua orang adalah kenapa terjadi Islamophobia? Apakah ini sebuah “insiden” terpisah dari ragam peristiwa yang terjadi dalam hidup manusia?

Jawabannya jelas tidak. Ada tiga jawaban teologis yang dapat diberikan:

Pertama, harusnya Islamophobia dilihat sebagai bagian dari proses kehidupan itu sendiri. Artinya Islamophobia tidak bisa dilepaskan dari tabiat kehidupan yang memang secara fundamental adalah ujian. Karenanya Islamophobia harus dilihat sebagai bagian dari ujian hidup manusia.

Kedua, bahwa Islamophobia itu tidak bisa terlepas dari bagian tabiat keimanan. Iman dalam tabiatnya teruji. Karenanya Islamophobia itu adalah bagian integral dari proses menuju kepada kematangan iman itu sendiri. Semakin dekat kepada kematangan iman akan semakin berat ujian yang dihadapi.

Ketiga, keberadaan umat di negara-negara mayoritas non Muslim, khususnya di negara-negara yang tinggi Islamophobia, tidak dapat dilepaskan dari misi dakwah para rasul.

Dengan sendirinya meningginya Islamophobia juga tidak dapat dilepaskan dari tabiat perjalanan dakwah yang penuh tantangan. Dakwah yang tidak tertantang akan menjadi hambar dan kurang menggigit. Wajarlah nabi-nabi yang paling hebat tertantang mendapat gelar khusus sebagai “Ulul Azm”.

Merujuk kepada ketiga basis tersebut dapat diyakini bahwa Islamphobia akan selalu ada, selama seorang Mukmin hidup dan dalam misi kerisalahan (representasi rasul). Kenyataan ini yang digambarkan dalam Al-Quran:

“Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut-mulut mereka. Tapi Allah menyempurnakan cahayaNya walaupun mereka membencinya” (As-Shof).

Kata “yuriiduuna” (mereke berkehendak) adalah bentuk “fi’il mudhori’” atau kata kerja yang menggambarkan sekarang dan mendatang. Maka keinginan dan usaha sebagian orang untuk menghentikan kebenaran akan berlaku sepanjang zaman. Dulu, sekarang dan masa mendatang.

Faktor-faktor utama Islamophobia

Namun demikian, ada baiknya juga disampaikan faktor-faktor ril di lapangan yang menjadikan Islamophobia meninggi dari masa ke masa. Hal ini penting agar diketahui secara jelas apa dan bagaimana kemudian menyikapinya juga dengan sikap nyata.

Di antara faktor-faktor atau penyebab meningginya Islamophobai di Amerika dan dunia Barat adalah sebagai berikut:

Pertama: Kebodohan (ignorance)

Kata orang bijak “musuh terbesar manusia adalah ketidak tahuan”.

Ketidak tahuan menimbulkan kecurigaan, ketakutan bahkan kebencian terhadap sesuatu. Sehingga sejatinya musuh yang sesungguhnya adalah ketidak tahuan.

Yang paling berbahaya adalah ketika ketidak tahuan itu justeru dianggap “ilmu al-yaqiin” (ilmu pasti). Akibatnya seringkali kesimpulan tentang sesuatu, termasuk tentang orang lain dibangun di atas “perasaan” mengetahui.

Beberapa waktu lalu saya diundang berbicara di sebuah Universitas di North Florida. Universitas ini terletak hanya 40 km dari gereja Pasto Jones, pembakar Al-Quran.

Di saat saya menyampaikan materi ternyata ada beberapa orang dari pengikutnya yang hadir. Bahkan mereka membawa spanduk bertuliskan anti Islam, khususnya anti Syariah.

Singkat cerita, setelah presentasi saya minta ke panitia agar mereka yang membawa spanduk itu diminta tinggal dan berdialog khusus dengan saya. Alhamdulillah mereka mau menerima tawaran itu.

Pertanyaan pertama saya kepada mereka: “how many of you have met any Muslim before?”. Semuanya diam dan mengaku belum pernah ketemu Muslim.

Lalu saya tanyakan: “how many of you have red the Quran?”. Semuanya juga diam.

Pertanyaan lainnya: “Do you know what Shariah is?”. Salah seorang nyeletuk: “Islamic Law”.

“Great” kata saya. “Had you ever read what really Islamic law is?”. Sekali lagi semuanya terdiam.

Singkat cerita dialog antara saya dengan merek menyimpulkan bahwa kecurigaan, kekhawatiran dan kebencian mereka hanya Karen mereka memang tidak tahu. Karenanya saya meminta mereka mendengarkan presentasi saya lebih lama dari acara aslinya.

Alhamdulillah merek meninggalkan ruangan itu dengan jabat tangan dan senyuman.

Saya juga harus akui bahwa sebagian umat Islam biasanya membangun kecurigaan bahkan kebencian kepada orang lain, walau jelas Islam melarang, memang karena ketidak tahuan tentang mereka.

Kedua: media.

Faktor kedua meningginya Islamophobia adalah misinformasi media yang tidak saja salah, tapi menyesatkan.

Di tahun 2010 lalu di kota New York akan dibangun Islamic Center dua blok dari lokasi WTC. Rencana ini begitu heboh sehingga dunia, bahkan pemimpin dunia ikut memberikan komentarnya.

Tapi kehebohan itu terjadi karena informasi menyesatkan dari media yang menyebut proyek tersebut dengan nama “Ground Zero Mosque”. Sehingga imej yang terbangun adalah seolah komunitas Muslim akan membangun Masjid di lokasi WTC yang telah runtuh.

Saya ketika itu suatu hari diwawancarai oleh CNN hampir sejam, sekedar untuk mengetahui opini saya apakah mendukung atau harusnya jangan mendukung karena isunya sensitif.

Wawancara itu panjang lebar itu ternyata hanya disiarkan sebuah potongan sekitar 30 detik. Sebuah potongan yang seolah menyatakan kalau saya tidak peduli dengan sensitifitas warga.

Padahal statemen saya jelas. Saya mendengar, melihat dan merasakan apa yang disuarakan oleh warga New York. Tapi saya juga perlu mensyukuri Konstitusi Amerika yang menjamin hak-hak agama bagi semua warganya. Dan membangun rumah Ibadah selama sesuai dengan aturan yang ada adalah jaminan Konstitusi.

Contoh lain adalah sebuah film yang berjudul “The Siege”. Dalam film itu ada dua pemerannya yang beragama Islam. Satu melakonkan sebagai FBI. Dan satunya lagi sebagai “terroris”. Anehnya yang dinampakkan sebagai Muslim adalah sang terroris. Sementara agen FBI yang juga beragama Islam itu tidak sama sekali diperlihatkan sebagai seorang Muslim.

Intinya media adaah kekuatan yang dahsyat. Media dapat menentukan wajah sesuatu sesuai misinya. Yang putih bisa jadi hitam. Dan yang hitam bisa jadi putih.

Sayangnya umat ini hanya dapat mengurut dada, berkeluh kesah, bahkan mengumpat karena menjadi mainan kepentingan media massa.

Ketiga, faktor ekonomi.

Faktor ketiga meningginya Islamophobia adalah karena kepentingan perut. Puluhan bahkan ratusan NGO didanai oleh korporat ternama. Sebagian bahkan namanya dirahasiakan agar bisa memberi lebih dari batas aturan yang ada.

Sebagai misal, ada lebih 206 juta US$ dibelanjakan yang didanai oleh 74 perusahaan besar mendanai propaganda anti Islam di Amerika.

Propaganda Islamophobia dan anti Muslim di Amerika dan dunia Barat itu menjadi sebuah bisnis besar. Seorang wanita Amerika keturunan Libanon, Bridget Gabriel misalnya menjadikan propaganda Islamophobia dan anti Muslim sebagai karir dan sumber penghidupannya.

Keempat, kepentingan politik.

Faktor keempat meningginya Islamophobia dan anti Islam di Amerika karena keterlibatan kepentingan politik (political interest).

Satu contoh yang lucu adalah diizinkannya para pegawai Kongress dan Gedung Putih untuk melaksanakan Jumatan di gedung Capitol Hills. Pemberian izin tersebut pertama kali dilakukan oleh Newt Gingrich, Speaker of the House (Ketua Kongress) ketika itu.

Anehnya beberapa waktu lalu Newt Gingrich ingin maju menjadi capres dari partai Republican. Tiba-tiba saja bagi Newt Gingrich Islam itu dan hukum-hukumnya, tentunya termasuk sholat Jumat, menurutnya antithesis (bertolak belakang) dengan nilai-nilai Amerika.

Sejak itu mantan Ketua Kongress ini tiba-tiba alergi dan ketakutan dengan kata “shariah”. Padahal Jumatan sebagai bagian dari Shariah, dialah yang mengizinkannya dilaksanakan di gedung Capitol Hills Amerika.

Tapi begtulah lucunya sikap seorang politisi ketika sudah bersentuhan dengan kepentingannya. Akal sehat dan nurani kadang tidak lagi menjadi pegangan.

Kelima, prilaku umat.

Faktor kelima meningginya Islamophobia, diakui atau tidak, disadari atau tidak, juga dikarenakan oleh prilaku umat yang jauh dari nilai-nilai Islam yang sesungguhnya.

Sekali lagi Islam itu indah, cantik dan menawan. Tapi kadangkala prilaku umat ini mencederai keindahan Islam itu.

Islam itu damai. Umatnya terkadang cepat kehilangan kontrol emosi. Cepat marah, bahkan destruktif dalam merespon ragam tantangan hidup.

Islam itu ilmu, kerja keras dan berkemajuan. Umatnya kadangkala kurang etos kerja dan cepat mengeluh.

Islam itu kesetaraan dan keadilan. Mari berkaca ke mayoritas dunia Islam dalam tataran kehidupan publik. Gap antara yang punya (the haves) dan yang tidak punya (the have nots) begitu besar. Ketidak adilan itu nampak jelas.

Demikian seterusnya. Bahwa banyak orang salah paham dan akhirnya curiga dan takut dengan Islam dikarenakan oleh prilaku pengikutnya.

Tidaklah berlebihan jika seorang ulama besar Mesir pernah berkata: “Hampir saja Islam tersembunyi oleh (prilaku) orang-orang Islam sendiri”.

Demikian lima faktor utama penyebab meningginya Islamophobia di Amerika khususnya dan di dunia Barat pada umumnya.

Pertanyaan yang kemudian timbul adalah apa saja langkah-langkah yang harus diambil dalam menghadapi Islamophobia itu. (Bersambung)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here