Islamophobia dan Tanggung Jawab Dakwah (2)

116

Oleh: Imam Shamsi Ali (Presiden Nusantara Foundation)

Kita kemudian sadari bahwa Islamophobia adalah sebuah fenomena alami dalam proses hidup dan kematangan iman. Bahkan menjadi mesin penggerak laju pergerakan dakwah itu sendiri. Dengan tantangan akan terbuka peluang luas bagi perkembangan dakwah itu sendiri.

Mungkin contoh terdekat dalam sejarah harum baginda Rasulullah SAW adalah boikot terhadap keluarga beliau Bani Hasyim dan meninggalnya dua orang terdekatnya, Khadijah dan Abu Thalib. Ternyata boikot itu membawa hasil positif yang luar biasa. Allah mengangkat beliau ke Sidaratul Muntaha untuk berkomunikasi langsung dan menerima hadiah terbesarnya, sholat.

Dan segera setelah itu kemenangan kolektif umat terbuka, yang dimulai dengan hijrah. Karena memang hijrah sejatinya adalah awal kebangkitan umat secara jamaah (kolektif). Madinah adalah tempat didirikannya peradaban yang kemudian menyebar ke seluruh pelosok Arab dan dunia.

Karenanya pertanyaan besar sebenarnya adalah bagaimana menghadapi Islamophobia sehingga tidak mengorbankan (victimizing) umat. Sebaliknya justeru mampu termaksimalkan untuk kemjauan dan perkembanhan dakwah itu sendiri.

Pertama, jadikan Allah sebagai pegangan.

Kerap kali kita menyaksikan orang-orang mengaku memperjuangkan Islam dan kebenaran. Tapi pada dirinya sendiri Islam dan kebenaran itu dipegangi setengah hati. Mengaku memperjuangkan agama Allah. Tapi Allah dan agamaNya sekedar hiasan dan slogan murah.

Mungkin itulah salah satu rahasianya kenapa keimanan dan perjuangan keimanan itu terukur dengan tantangan yang dihadapi. Semakin tinggi nilai keimanan seseorang kemungkinan besar akan semakin besar pula tantangan yang dihadapinya.

“Akankah kalian merasa masuk syurga padahal Allah belum melihat siapa di antara kalian yang berjuang dan siapa di antara kalian yang sungguh-sungguh bersabar” (Al-Quran).

Karenanya menghadapi intensitas Islamophobia dan sentimen anti Islam, hal yang terpenting yang perlu dijadikan dasar pijakan adalah “ALLAH”.

Dalam keimanan Allah adalah pegangan terkuat. Pegangan yang dikenal dengan “al-urwah al-wutsqa”. Sebuah pegangan yang tidak akan goncang apalagi roboh hanya karena perubahan keadaan.

Sejatinya memang perjalanan hidup seorang Muslim, apalagi seorang da’i dan pejuang, Allah selalu mengitari setiap langkah kakinya. Dari Allah, bersama Allah, untuk Allah, menuju Allah.

Dengan Allah seorang da’i menjadi kuat. Tanpa Allah seorang dai menjadi lemah dan labil. Dengan Allah tantangan menjadi kecil dan ringan. Tanpa Allah sekecil apapun tantangan akan berat dan mengantar kepada kegagalan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here