Intoleransi Agama dan Ras

234

Oleh: Imam Shamsi Ali (Presiden Nusantara Foundation/Pesantren Nur Inka Nusantara Madani USA)

Kita hidup dalam dunia yang penuh dengan paradoks. Kecanggihan teknologi, khususnya di bidang telekomunikasi, ternyata tidak mengurangi miskomunikasi yang terjadi di antara manusia. Kemajuan dunia informasi dan media, khususnya media sosial, ternyata juga semakin menambah misinformasi di antara manusia.

Barangkali yang paling lucu, bagaikan lelucon yang mengantar tawa, adalah di tengah kemajuan dunia pendidikan, dengan universitas-universitas dan metode pendidikan yang semakin canggih, manusia semakin tenggelam dalam prilaku kebodohannya (jahiliyah).

Bahkan pengakuan berperadaban (civilized) juga semakin membawa manusia dari alam peradaban ke alam yang tidak beradab. Prilaku manusia yang mengaku lebih beradab kerap sangat jauh dari nilai-nilai peradaban. Bahkan lebih tidak beradab ketimbang mereka yang hidup di zaman batu.

Salah satu kebodohan dan prilaku yang tidak beradab adalah ketika manusia memandang manusia lain lebih rendah hanya karena perbedaan-perbedaan yang dimilikinya. Termasuk perbedaan ras, etnis, kebangsaan, warna kulit, budaya bahkan keyakinan.

Orang beradab akan memandang perbedaan dan ketagaman sebagai fenomena hidup yang bersifat alami. Karena sejatinya itulah sunnatullah (Hukum Allah) dalam ciptaanNya. Tak ada dua makhluk, bahkan yang “dikloning” sekalipun tanpa memiliki perbedaan. Itu tabiat dasar kehidupan.

Islam sendiri memandang perbedaan-perbedaan yang ada di antara manusia sebagai “God decreed” (bagian dari keputusan Allah). Dalam bahasa agama dikenal sebagau bagian dari takdir Allah SWT.

Allah menggariskan itu dalam KalamNya: “kalau sekiranya Allah berkehendak maka Dia jadikan kamu satu umat”.

Artinya Allah tidak berkehendak demikian. Kehendaknya justeru manusia dijadikan dalam keragaman.

Kata “umat” ini tentunya bermakna kelompok manusia dalam arti luas. Bisa umat dalam arti ras atau etnis. Boleh juga dalam arti kelompok idiologi, termasuk budaya dan keyakinan atau agama.

Sayang sekali kebodohan (ignorance) sebagian manusia menjadikan mereka memandang perbedaan ini sebagai musuh dan ancaman. Maka terlahirlah manusia yang anti perbedaan dan keragaman (diversity). Sikap anti dan bermusuhan kepada perbedaan dan keragaman ini lebih dikenal dengan kata intoleransi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here