Instagram Dituding Tebarkan Rumor Palsu Soal Vaksin

142

Muslim Obsession – Algoritme Instagram sudah mendapat kecaman dari influencer karena menampilkan postingan mereka hanya kepada sekitar 10% pengikut mereka dan membatasi jangkauan mereka, tetapi kali ini platform media sosial terlibat dalam pelanggaran yang jauh lebih serius, yakni menyebarkan rumor vaksin COVID-19.

Sebuah studi baru-baru ini mengungkapkan bahwa platform tersebut mendorong informasi yang salah tentang virus corona dan vaksin ke timeline penggunanya melalui posting yang disarankan, menggemakan perilaku oleh perusahaan induknya Facebook.

“Algoritme Instagram mendorong orang semakin jauh ke dalam realitas mereka sendiri, tetapi juga memisahkan realitas tersebut sehingga beberapa orang tidak mendapatkan informasi yang salah sama sekali dan beberapa orang semakin didorong oleh informasi yang salah,” kata Imran Ahmed, CEO dari Center for Countering Digital Hate yang melakukan studi tersebut, dikutip oleh US National Public Radio, Rabu (10/3/2021).

Platform media sosial merekomendasikan 104 posting yang berisi informasi yang salah, sekitar satu posting seminggu, dari September hingga November pada 2020, menurut perusahaan nirlaba yang memiliki kantor di London dan Washington D.C.

Baca Juga: Fakultas Kedokteran UGM Mundur dari Tim Peneliti Vaksin Nusantara

“Menempatkannya ke dalam timeline benar-benar ampuh,” tutur Ahmed.

“Kebanyakan orang tidak akan menyadari bahwa mereka diberi informasi dari akun yang tidak mereka ikuti. Mereka berpikir ‘Ini adalah orang-orang yang telah saya pilih untuk saya ikuti dan percayai,’ dan itulah yang membuatnya sangat berbahaya,” imbuh dia.

Meskipun Facebook diduga mengambil pendekatan agresif terhadap kebohongan tentang vaksin COVID-19 dalam beberapa bulan terakhir, para kritikus mengatakan pertarungan tersebut tidak efisien untuk mencegah penyebaran informasi yang salah dengan posting saran otomatisnya.

Pinterest mengambil inisiatif serupa pada 2019 ketika mengumumkan akan mengarahkan pencarian terkait vaksin di platform ke badan ilmiah yang kredibel seperti Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS.

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here