Inspiratif! 5 Kisah Marbot Masjid yang Sukses di Bidangnya Masing-Masing

537

Jakarta, Muslim Obsession – Jadi marbot masjid kadang kala masih di pandang sebelah mata di masyarakat. Sebab, di samping gajinya yang tidak seberapa, menjadi marbot masjid juga kadang punya beban moral di masyarakat. Namun sejatinya pekerjaan ini begitu mulia, karena dialah penjaga rumah Allah

Dan jangan disangka tidak semua marbot masjid hidupnya serba kesusahan. Namun banyak juga marbot masjid yang punya ide dan pemikiran berlian serta semangat kerja yang tinggi. Ia bahkan mampu menunjukan bahwa dirinya juga bisa meraih kesuksesan seperti orang pada umumnya.

Nah berikut, kisah-kisah para marbot masjid yang sudah dirangkum Muslim Obsession. Para marbot masjid ini nyatanya bisa sukses di bidang-bidangnya masing-masing. Mereka mampu meubah hidupnya menjadi seorang pengusaha muslim yang suskses.

Berikut ringkasannya:

1. Adi Akbar

Adi Akbar

Tidak ada yang menyangka seorang marbot masjid di Kota Makassar bernama Adi Akbar kini berhasil menjadi pengusaha yang memiliki tiga rumah makan. Ia merasa kesuksesannya itu berkat doa yang sering ia panjatkan di masjid ketika menjadi seorang marbot.

“Selama tujuh tahun tinggal di masjid, banyak doa yang saya panjatkan terkabul disana. Termasuk kelancaran berbisnis dan jodoh,” katanya di Hotel Lariz, Jalan Sultan Alauddin, beberapa waktu lalu.

Dari kenalannya di masjid itu ia kemudian diperkenalkan dengan seorang pengusaha sukses. Dari sana Andi belajar. Kepercayaan, integritas dan kejujuran pun ia peroleh dari pimpinannya.

Ini pula yang membuat karirnya semakin melejit dengan diberikannya amanah strategis untuk bekerja di rumah makan milik bosnya sampai ia mampu mendirikan usaha sendiri. Sekali lagi, semua karena pengabdiannya di masjid.

“Setiap saya berdoa, saya selalu yakin dengan doa yang saya panjatkan.
Karena awalnya modal saya ialah inspirasi dari bos sebelumnya yakni Bapak Ahmad Tonang,” ujarnya dalam Kelas Inspirasi yang dihadiri puluhan peserta.

Saat ini, Adi Akbar telah memiliki tiga rumah makan yakni rumah makan Bonetamparang, Bonenalino, Bonebinang. Rencananya, pada Agustus 2019 akan dilaunching warung ke empat di Jalan Pontiku, Makassar.

2. Elang Gumilang

Di balik kesuksesan Elang Gemilang sebagai seorang miliader, ternyata dia pernah bertahun-bertahun pernah menjadi seorang marbot masjid. Masjid kata dia menjadi sumber inspirasinya untuk meraih kesuksesan.

Menurutnya, ada tiga cara untuk menjadi orang kaya yaitu terlahir dari keluarga kaya, menikah dengan pasangan yang kaya, dan berusaha sungguh-sungguh. Jalan ketigalah yang dipilih oleh Elang Gumilang, peraih gelar Wirausahawan Muda Mandiri 2007 ini.

Mungkin belum banyak yang tahu jika ide-ide kreatif Elang lebih banyak lahir dari masjid. Sejak semester lima, Elang tinggal di sebuah masjid yang berada di dekat terminal Bogor. Siang hari ia sibuk dengan aktivitas kuliah, namun ketika malam tiba, ia menjadi pelayan Tuhan, dengan menjadi penjaga masjid.

Di rumah Allah itu, setiap malam Elang selalu bermunajat kepada Sang Maha Kaya, agar dirinya memiliki jiwa yang mandiri dan berguna bagi orang lain. Doanya Elang terkabul. Ia kini mampu mendirikan perusahaan property Elang Group dengan omset miliaran rupiah.

3. Thoriq

Kisah kesuksesan Thoriq sebagai pengusaha buah-buahan berawal dari seorang karyawan di toko buah. Karena usaha buah di tempat kerjanya anjlok. Ia kemudian di PHK, dan diperintahkan oleh mantan bosnya untuk mengurus masjid sebagai marbot. Perintahnya itu ia jalani sebagai marbot tanpa di bayar.

Dengan tulus ikhlas Thoriq kemudian bekerja sibuk menjadi marbot masjid. Pekerjaan itu ia lakoni selama tiga tahun. Tanpa rasa mengeluh, ia begitu menikmati bekerja sebagai marbot. “Semua saya jalani dan ikhlas dan sabar aja,” kata Thoriq dalam laman akun facebook mangrove inspiration.

Setelah merasa cukup, ia kemudian mencoba untuk membuka usaha berjualan buah. Tak membutuhkan waktu lama, Thoriq bersyukur usahanya kian berkembang pesat, sampai di kirim ke berbagai kota besar. Ia merasa semua itu karena pertolongan Allah.

“Kesusesan saya sampai saat ini tidak lepas dari pertolongan Allah,” katanya.

“Jika kit sabar dan ikhlas mengurus rumah Allah, dan bertakwa kepada Allah, maka Allah akan memudahkan kita dalam mencari rezeki,” jelasnya.

4. Ikhsan Suhendro

Ikhsan Sihendro menjadi lulusan terbaik IPB pada wisuda tahap IV tahun akademik 2017/2018, selain berkuliah, aktif berorganisasi serta menjalani profesi sebagai marbot di Masjid Al Hurriyah Kampus Dramaga, Bogor, Jawa Barat.

“Menjadi marbot masjid selain menjadi wadah pengembangan bakat, dan pengembanan amanah, juga mendapat mess (asrama) gratis,” kata Ikhsan, di Bogor, Jumat.

Pemuda asal Lampung ini merupakan mahasiswa IPB dari Fakultas Peternakan. Ia lulus seleksi SNMPTN melalui jalur undangan program Bidikmisi dari pemerintah.

Usai diterima masuk IPB, Ikhsan mendaftar sebagai marbot Masjid Al Hurriyah. Profesi sebagai marbot ia lakoni dari tahun 2014 sampai 2017.

Memilih menjadi marbot masjid tanpa pikir panjang. Hal ini juga untuk meringankan beban orangtuanya yang berasal dari keluarga tidak mampu. Selain itu untuk memenuhi hasratnya yang gemar berorganisasi.

“Selain bisa mengerjakan ibadah sunnah, manfaat lainnya bisa shalat berjamaah, dan menjaga ikatan ukhuwah (persaudaraan) yang kuat hingga sekarang,” katanya.

Selama menempuh pendidikan di IPB, Ikhsan selalu memegang nasehat salah satu ustadznya yang mengatakan sebagai aktivis dakwah harusnya berprestasi, agar dakwah yang disampaikan didengar.

“Jika belajar adalah ibadah, maka berprestasi adalah dakwah,” kata Ikhsan mengulang pesan ustadznya.

5. Prof. Udin

Inilah contoh betapa dahsyatnya hijrah. Dari seorang marbot masjid yang kini menjadi guru besar. Profesor Udin. Resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) pada 8 Agustus lalu pada umur 41 tahun.

Pria yang bernama lengkap Mohamad Khoirudin ini pada 1998 melakukan hijrah ke Yogya untuk melanjutkan studinya di Jurusan Elektro UNY. Ekonomi yang kurang mendukung tidak menyurutkan semangat belajarnya. Ia bertekad bisa kuliah secara mandiri.

Kisah Prof.Khairuddin menjadi viral setelah sebuah akun Facebook milik Falasifah Ani Yuniarti membagikan cerita tersebut dengan judul tulisan ‘Udin dari Marbot Masjid Jadi Profesor’.

Dalam unggahan tersebut, dikisahkan bagaimana Udin nekat dengan hanya berbekal doa meninggalkan kampung halamannya di Purwokerto untuk menuntut ilmu. Untuk memenuhi biaya hidup dan kuliah ia harus membagi waktu menjadi takmir masjid sambil berjualan tempe.

Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya selama merantau di Yogyakarta, Udin harus pintar membagi waktunya untuk kuliah, belajar, menjadi marbot masjid, dan juga berjualan tempe. Sebelum tinggal dan menjadi marbot masjid, Udin ternyata juga pernah berjualan koran di pertigaan lampu merah.

“Kehidupannya yang tidak berkecukupan membuatnya prihatin. Kuliah, tinggal, dan mengurus masjid Al Amin. Jadi marbot dan jualan tempe,” dikutip dari Facebook Falasifah pada 4 Agustus 2020 lalu.

Setelah lulus S1 dengan predikat cumlaude di Universitas Negeri Yogyakarta pada tahun 2002, Udin meneruskan pendidikan S2-nya di ITS. Di tahun yang sama di kelulusannya, ia juga diangkat menjadi dosen di jurusan Pendidikan Teknik Elektro Fakultas Teknik UNY.

Pada 2004, ia melanjutkan studi S2 di ITS mengambil bidang ilmu Teknik Elektro Sistem Kendali dan lulus pada 2006. Tahun berikutnya, ia melanjutkan studi S2 kembali di Malaysia mengambil bidang ilmu Teknik Elektro Kendali Robotika dan Mekatronika.

Dilanjutkan di kampus yang sama, ia menempuh program doktoral pada bidang ilmu yang sama dan lulus di tahun 2011. Lalu, Prof Khairudin mengemban jabatan sebagai Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kerjasama dari 2016 hingga sekarang. (Albar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here