Inilah Tingkatan Dosa, Kamu Wajib Tahu!

142
Ustadz Adi Hidayat (UAH).

Muslim Obsession – Setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan, baik kecil maupun besar. Kesalahan yang pada akhirnya berdampak pada catatan dosa baginya.

Namun demikian, di setiap kesalahan maupun dosa yang dilakukan, Allah Ta’ala senantiasa mau mengampuni dosa hamba-hamba-Nya.

Ustadz Adi Hidayat dalam kajiannya mengatakan, sesuatu yang sudah sadar kemudian salah namun masih dikerjakan juga, maka tingkatan kesalahan itu setidaknya ada empat.

“Pertama, kesalahan kecil yang dilakukan disebut akhtho (أخطأ). Menurunkan sifat maaf dari Allah maka disebut Al-‘Afwu (العفو). Oleh karenanya ada doa wa’fu ‘anna, mohon ampuni kami Ya Allah,” ujar Ustadz Adi.

Kedua, lanjut Ustadz Adi, jika kesalahan itu sudah mengandung nilai dosa yang memiliki konsekuensi tinggi di sisi Allah Ta’ala, maka berubah menjadi dzambun (ذنب). Bukan sekadar akhtho biasa, tetapi sudah membawa dosa di dalamnya. Dan Allah menurunkan sifat-Nya untuk mengampuni dosa ini disebut dengan Ghafir (غافر).

BACA JUGA: Ustadz Adi Hidayat Kritik Lomba BPIP: Temanya Lemah!

Ketiga, dosa yang agak banyak disebut dzunubun. Berubah dari dzambun menjadi dzunubun (ذنوب). Dalam konteks ini Allah Ta’ala masih memberi peluang untuk mengampuni, sehingga Allah turunkan sifatnya yang disebut Ghaffar (غفار).

Hal ini antara lain terlihat di dalam QS. Nuh, ketika Nabi Nuh ‘alaihissalam banyak dicela dan dicaci maki oleh umatnya, lalu beliau meminta umatnya agar segera memohon kepada Allah.

“Kenapa disebut dengan Ghaffar? Karena ingin menunjukkan bahwa tingkat kesalahannya sudah mulai berakumulasi, sudah mulai banyak sehingga level pengampunan Allah menjadi Ghaffar,” jelasnya.

Keempat, jika sudah mengandung sifat zhalim di dalamnya, misalnya, sudah tidak shalat tapi menyuruh orang lain untuk tidak shalat, lalu mencela orang-orang yang shalat. Ini namanya zhulmun (ظلم) atau (ذنوب مع الظلم), sehingga orang yang mencegah orang lain beribadah di masjid untuk mengagungkan Allah disebut orang-orang yang zhalim (Lihat QS. Al-Baqarah: 114).

BACA JUGA: Cara Unik Ustadz Adi Hidayat Nawar Harga Roti, dari Rp.86 Ribu sampai Sejuta

“Di sinipun Allah Ta’ala masih memberikan kesempatan kepadanya kalau dia ingin bertaubat, maka diberikanlah nama sifat Allah yang selanjutnya, yakni Ghafur (غفور),” ungkapnya.

Terakhir, ini adalah tingkat paling tinggi dari kemaksiatan yang disebut dengan israf (إسراف) yang artinya sangat berlebihan. Ini sudah melewati batas.

Misalnya, urai Ustadz Adi, jika ia tidak bermaksiat sepertinya gatal. Jika ada orang mengerjakan perbuatan maksiat yang belum pernah ia lakukan, sepertinya ia tersaingi dan ingin berbuat seperti itu, tidak boleh ada orang yang melampaui dia. Itu Israf namanya.

Dalam konteks ini pun Allah masih mengampuni jika ia bertaubat. Allah turunkan sifat-Nya yang kelima yaitu Rahim (رحيم), ini yang paling tinggi (Lihat QS. Az-Zumar: 53).

BACA JUGA: Ustadz Adi Hidayat Jelaskan Tata Cara Urutan Mandi Junub

“Manusia yang berbuat israf dalam hidupnya, seperti berzina, mencuri, merampok, lalu ada sentuhan dalam jiwanya kemudian bertaubat kepada Allah, maka dengan rahmat Allah diampuni dosanya tersebut. Jika ia wafat maka ia pun husnul khatimah,” tegasnya.

Jadi, jelas Ustadz Adi, di tingkat kesalahan terkecil ada sifat Allah mengampuni. Lalu naik jadi berat adalah Ghafir, naik lagi ada Ghaffar, banyak ada Ghafur, bahkan berlebihan pun Allah masih berikan kesempatan sepanjang nyawa masih belum sampai tenggorokan.

Kalau dengan kesempatan ini masih belum mau taubat, mau dengan cara apalagi Allah mesti mengampuni?

“Jadi benar kata Nabi, semua umatku akan masuk surga kecuali yang enggak ingin. Jadi kalau ada yang mendapat rahmat itu anugerah, tapi kalau ada yang masuk neraka itu bukan Allah yang salah, melainkan orang tersebut memang ingin masuk neraka. Itu yang berbahaya,” tandasnya. (Fath)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here