Ini Fakta Tentang Nasi Uduk

1672
Nasi Uduk (Foto: Istimewa)

Jakarta, Muslim Obsession – Siapa yang tak gemar makan nasi uduk? Makanan berbahan utama nasi dengan cita rasa gurih ini sudah menjadi salah satu kuliner khas Indonesia yang tak asing lagi di lidah masyarakat kita.

Di Tanah Air sendiri, nasi uduk dikenal sebagai makanan khas Betawi yang kerap dihidangkan bersama aneka lauk seperti semur telur, tahu dan tempe atau jengkol.

Nasi uduk juga biasanya dikonsumsi saat sarapan pagi. Kuliner ini sering ditemui di berbagai acara hajat, adat, dll. Meski bentuk dan warna yang sama seperti nasi putih biasanya, namun nasi ini memiliki rasa yang khas. Tapi bagi teman Muslim yang memfavoritkan nasi ini, apakah sudah tahu asal-asulnya? Nah, kali ini Muslim Obsession akan mengajak kalian mengenal nasi uduk lebih dalam lagi.

Konon katanya, sejak abad ke 14-an nasi uduk datang melalui jalur transaksi perdagangan. Di bawa dari Tanah Melayu dan alasan nasi ini berada di Tanah Jawa karena masyarakat Melayu yang berada di Sumatera saat itu pindah ke tanah Jawa. Perpindahan orang-orang Melayu ke tanah Jawa suka membawa kebiasaan-kebiasaan dan salah satunya adalah menyantap nasi gurih. Nasi yang dikenal dengan nasi lemak itu diubah namanya menjadi nasi uduk.

Selain itu, nama ‘uduk’ diambil dari istilah bahasa Sunda yang berarti bersatu atau bercampur. Maka dari itu, dalam penyajiannya nasi uduk sering dimakan bersama lauk lain agar terasa lebih enak. Namun beberapa pendapat lain mengatakan bahwa ‘uduk’ berarti susah karena dulunya makanan ini sering ditemukan di pasar tradisional dan termasuk makanan kelas bawah. Seiring berkembangnya zaman, kuliner ini sudah berkembang sehingga sudah lagi menjadi makanan kelas bawah.

Awalnya, nasi ini dijual di kawasan Kebon Kacang, Tanah Abang, Jakarta. Lalu akhirnya di kawasan ini sudah banyak ditemukan warung dan kedai yang berjualan nasi gurih dengan menggunakan nama Kebon Kacang agar dagangannya laris. Namun tetap saja, akhirnya sudah banyak dijumpai di beberapa daerah selain Kebon Kacang. Selain itu, kini sudah banyak orang yang tahu cara membuatnya.

Di Indonesia sendiri, kuliner ini mengalami perkembangan dan masih eksis hingga kini. Ada yang mengubahnya menjadi kue dengan tampilan yang cantik. Bahkan ada juga yang warna-warni. Dari semua variasi tersebut, masyakarat pun menanggapinya secara positif dan tetap menggemarinya. (Bal)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here