Ini Alasan Kenapa Nama Pasien Corona Dirahasiakan

859
Korban terjangkit virus Corona (Foto: Daily Sabah)

Muslim Obsession – Ada rahasia medis bahwa tidak boleh mengekspose nama pasien terjangkit virus corona, bahkan di dunia internasional tidak pernah menyebut nama rumah sakit.

”Kami memonitor awak kapal Diamond Princess yang dirawat dengan kasus positif 9, pemerintah Jepang hanya mengatakan mereka kita rawat di kota Chiba dan di pinggiran Tokyo. Bahkan kami tanya namanya pun tidak diberikan,” jelas Achmad Yurianto, Sekretaris Direktorat Jenderal (Sesditjen) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melalui rilis Setkab, Rabu (4/3/2020).

Hal ini, menurut Achmad, sama dengan asisten rumah tangga warga negara Indonesia (WNI) di Singapura kemarin, tidak diberikan namanya karena secara etika medis tidak boleh dikeluarkan dan itu yang jadi pegangan atau pedoman.

Mengenai pembangunan rumah sakit khusus Covid-19, Sesditjen P2P menyampaikan tidak ada pembangunan yang khusus karena Pemerintah membangun rumah sakit itu sudah by system dan untuk saat ini sudah disiapkan rumah sakit rujukan yang berjenjang.

”Kita tahu kalau di dalam konteks pelayanan rumah sakit umum secara umum, ada 14 rumah sakit rujukan nasional, ada sekitar 50 rumah sakit rujukan regional. Rujukan provinsi dan rujukan regional,” jelasnya.

Khusus terkait dengan penyakit tertentu seperti waktu yang kita hadapi SARS dulu atau flu burung, lanjut Achmad, Pemerintah menunjuk 100 rumah sakit sebagai rujukan flu burung.

“Nah sekarang di dalam konteks untuk korona ini, rumah sakit-rumah sakit itu kita siapkan untuk menerima rujukan kasus Covid-19 itu 136 rumah sakit. Jadi jangan dipersepsikan kita mau membangun rumah sakit. Rumah sakit itu sudah ada,” urainya.

Kalau kemudian disiapkan, sambung Sesditjen P2P, artinya perlengkapan, SDM, sarana, prasarana difokuskan untuk menghadapi kasus Covid-19, bukan membangun seperti imajinasi kayak di China itu dari tanah kosong terus berdiri, enggak seperti itu.

”Itu bukan rumah sakit khusus untuk Covid-19. Kita mau membangun rumah sakit ter-integrated untuk perbatasan. Jadi bukan rumah sakit khusus untuk itu. Seperti dibayangkan di China kan, jangan dibayangkan kayak begitu,” terang Achmad.

Rumah sakit itu, lanjut Achmad, akan menjadi rumah sakit rujukan untuk layanan kesehatan di daerah perbatasan, karena sebagaimana diketahui permasalahan di pulau-pulau, mau dibawa ke Jakarta terlalu jauh sehingga dibuatlah di situ yang agak besar.

Sekarang di sana, sambung Achmad, sudah ada rumah sakit umum daerah yang memiliki kemampuan itu dan bagian dari 134 rumah sakit sudah ada, bukan sekarang belum ada karena belum dibangun, bukan seperti itu cara berpikirnya. Memang, lanjut Achmad, semua sudah dalam perencanaan, yang sekarang sudah berlangsung meskipun bertahap adalah di Ambon, baru diresmikan beberapa saat yang lalu.

”Sekarang mulai lagi di Kupang dan di Wamena, ini nanti akan ditambahkan yang sana. Jadi kita akan memperhatikan daerah-daerah perbatasan, daerah-daerah ini karena memang ini untuk memperpendek jalur rujukan,” pungkas Achmad Yurianto.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here