Ingin Cari Pasangan Hidup, Ingat Nasihat Rasulullah

113

Jakarta, Muslim Obsession – Bagi kalian yang masih jomblo dan sedang mencari pasangan hidup, ada baiknya untuk tidak asal pilih. Sebab, pasanganmu ibarat pakaianmu, satu sama lain akan menjadi pelindung guna menjaga keutuhan dan kehormatan keluarga.

Ngomongin soal mencari jodoh yang baik, Nabi Muhammad Saw dari zaman dulu sudah memberikan nasihat penting untuk umatnya dalam mencari jodoh. Yang pertama, jodoh yang dicari adalah yang seiman dengan kita. Artinya dia harus sama-sama beragama Islam.

Dalam buku Ali bin Abi Thalib karya Ali Audah juga sudah dijelaskan bahwa salah satu parameter orang dalam memilih jodoh yang tepat sebagai pendamping hidup adalah karena agamanya. Rasulullah Saw bersabda:

عن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي ﷺ قال: تنكح المرأة لأربع: لمالها، ولحسبها، ولجمالها، ولدينها، فاظفر بذات الدين تربت يداك “

Tunkahul-mar-atu li-arba’in; limaliha wa lihisabiha wa lijamaliha wa lidiniha, fazhfur bi-dzati ad-dini taribat yadaaka.”

“Perempuan dinikahi karena empat alasan; karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, karena agamanya. Maka pilihlah yang karena agamanya, semoga engkau berhasil dan selamat.” Dalam hadits lainnya, Nabi bersabda:

إذا أتاكم من ترضون دينه وخلقه فزوجوه

“Idza ataakum man tardhauna dinahu wa khuluqahu fazawwijuhu.” Yang artinya:

“Jika yang datang (melamar) kepadamu orang yang kamu sukai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah.”

Dijelaskan bahwa Nabi mengucapkan kalimat ini sebanyak tiga kali, sebab Nabi ditanya bagaimana jika si calon (calon jodoh) itu cacat.

Di sisi lain, mencari jodoh yang tepat memang tidak sangat relatif bagi masing-masing individu. Namun parameter umum dan jitu adalah agama, sebab ras, kecantikan atau ketampanan, belum tentu menjadi hal yang menimbulkan sakinah mawaddah wa rahmah dalam menempuh mahligai rumah tangga.

Islam yang membawa ajaran persamaan telah membuktikan bahwa pernikahan sejatinya dapat mempertemukan antar-ras ataupun status sosial seseorang.

Di masa Nabi Muhammad Saw, beliau bahkan menikahkan Zaid yang merupakan bekas budak dengan Zainab yang berasal dari keturunan bangsawan Quraisy.

Contoh lainnya adalah Bilal bin Rabah yang juga bekas budak asal Afrika, dinikahkan dengan perempuan Quraisy yang merupakan adik dari Abdurrahman bin Auf.

Lalu ada Fatimah dari Bani Fihr yang dinikahkan dengan Usamah bin Zaid yang merupakan bekas budak. Contoh lainnya yang semacam ini bahkan terus berlangsung di zaman Khulafaurrasyidin. Agama dan ketakwaan seorang hamba menjadi parameter penting dalam landasan memilih jodoh. (Albar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here