Ingat Kematian Jadi Obat Virus Corona

138

Oleh: Hendrajit (Direktur Gobal Future Institute)

Kalau melihat gejala kena virus Corona atau Covid-19, saya teringat perbincangan wartawan senior dan penulis buku The Geography of Bliss, Erick Weiner, dengan Karma Ura, salah satu segelintir pemikir dan intelektual Bhutan.

Waktu meriset topik bukunya di Bhutan, Erick terkena gejala yang kalau kita cermati sekarang mirip terinfeksi virus corona. Mati rasa pada tangan dan kaki akibat pernapasan yang tidak teratur dan aliran oksigen yang tidak konsisten. Menurut Karma, itu gejala yang mengakibatkan serangan panik. Itu sebenarnya hanya hipokondria sesaat.

Ternyata resep yang diberikan Karma Ura sederhana.

“Anda perlu berpikir tentang kematian selama 5 menit setiap hari. Hal tersebut akan menyembuhkan, dan membersihkan diri Anda,” katanya.

Barang tentu Erick Weiner yang skeptis dan sekuler pada dasarnya, cuma melongo.

“Lantas gimana caranya?” tanyanya penasaran.

“Sadarilah bahwa rasa takut mati sebelum kita mencapai apa yang kita inginkan atau melihat anak-anak kita tumbuh. Itulah yang menyusahkan Anda,” kata Kurma.

“Tapi memikirkan kematian bukankah itu hal yang menyedihkan,” Erick sepertinya mencoba membantah Karma.

Jawaban Kurma enteng aja. “Anda-anda orang kaya di Barat ini belum pernah menyentuh mayat, luka segar, benda busuk. Menurutku ini masalah. Ini adalah kondisi manusia. Kita harus mempersiapkan diri menghadapi saat ketika kita tidak ada lagi,’ ujarnya.

Petuah Karma itu tampaknya bukan omong kosong. Ini adalah kesaksian. Testimoni. Bahwa dirinya dulu pernah kena kanker, pernah dikemoterapi, dan pernah dibedah operasi beberapa kali di rumah sakit. Sekarang sudah reda. Berangsur pulih kembali.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here