Indonesia itu Bernyawa

320

Oleh: Haedar Nashir (Ketua Umum PP Muhammadiyah)

Indonesia berusia 74 tahun dari hari kemerdekaannya, 17 Agustus 1945. Cukupkah berslogan, “Aku Indonesia”, “Aku Pancasila”, “NKRI harga mati”? Sebagian bersuara lantang, “awas radikalisme”, “waspadai anti-Pancasila”. Apakah sukma terdalam keindonesiaan benar-benar dipahami seutuhnya oleh para elite dan warga bangsa lebih dari sekadar jargon dan verbalisme.

Hari ini dapat dicatat momentum bersejarah dalam perjalanan awal kemerdekaan. Pada 18 Agustus 1945 yang lampau, sehari setelah proklamasi, bangsa Indonesia mengesahkan UUD 1945 sebagai konstitusi dasar yang di dalamya terkandung Pembukaan UUD 1945 yang memuat jiwa kemerdekaan, cita-cita nasional, dan lebih khusus Pancasila sebagai dasar dan ideologi Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dalam batang tubuh UUD 1945 pun banyak hal mendasar, seperti keanggotaan MPR dengan tiga keterwakilan yang menggambarkan kegotongroyongan dan keragaman rakyat Indonesia sejiwa dengan sila keempat Pancasila, “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan”, keberadaan agama, presiden orang Indonesia asli, sistem ekonomi pasal 33, dan pasal penting lainnya.

Pada hari kedua kemerdekaan itulah terjadi konsensus nasional yang membuktikan jiwa nasionalisme tinggi dari umat Islam. Para tokoh Islam rela mencoret tujuh kata pada Piagam Jakarta yang dikonversi menjadi sila pertama Pancasila, yakni “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Suatu peristiwa sejarah yang oleh Menteri Agama Alamsjah Ratu Perwiranegara disebut sebagai “hadiah terbesar umat Islam Indonesia”.

Ketika hari-hari terakhir ini semua komponen bangsa dan penyelenggara negara bergelora merayakan ulang tahun ke-74 kemerdekaan, tentu tidak sekadar ritual. Perenungan menjadi keniscayaan agar tidak terjebak pada kesemarakkan minus penghayatan. Sudahkah jiwa, pikiran, sikap, dan tindakan warga dan elite negeri mencerminkan dan mewujudkan keindonesiaan sejati sebagaimana fondasi dan cita-cita yang diletakkan oleh para pendiri Indonesia tahun 1945?

Perjuangan rakyat dan para mujahid untuk Indonesia merdeka pun penuh pengorbanan jiwa dan raga luar biasa. Boleh jadi perjuangan dan penderitaan rakyat itu oleh sebagian elite negeri kurang terhayati, sehingga hari ini lebih sibuk rebutan kursi. Sebagian malah merasa paling Indonesia dan menguasai isi perut Bumi Pertiwi dengan nafsu tak bertepi sehingga negeri ini seolah miliknya sendiri. Istafti qalbaka, tanyalah nuranimu yang jernih, sabda Nabi akhir zaman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here