In Memoriam Abuya Kiyai Ma’shum

146

Oleh: Ustadz Buchory Muslim (Wakil Ketua Lembaga Dakwah Parmusi (LDP)

Beliau memanggil saya dengan panggilan Ananda UBM, sebuah panggilan /kehormatan yang luar biasa. Saya bersyukur bisa dekat dengan beliau sejak aksi bela Islam.

Beliau adalah KH Muhammad Ma’shum, Saya memanggil beliau dengan sebutan Abuya (Bapak tercinta). Putra asli Bugis yang lahir di Jawa ini adalah Pendiri sekaligus Pemimpin Pondok Pesantren Al Ishlah Bondowoso sampai akhir hayatnya.

Banyak sekali ilmu, nasihat, spirit dan pengalaman Beliau yang beliau telah bagikan pada siapa saja yang beliau kenal atau dekat dengannya.

Saya termasuk yang beruntung mendapatkan banyak kesempatan istimewa sering ditelepon atau dipanggil ketika beliau berada di Jakarta.

Beberapa kali beliau menelpon sendiri atau meminta asisten beliau yang setia Ust Ahmad Parlaungan menghubungi saya dan kadang bersama Ust Slamet Ma’arif (Ketua Umum PA 212) untuk datang di hotel beliau menginap hanya sekedar bincang-bincang dan memberi spirit dalam sarapan pagi bersama.

Sampai menjelang Ijtima’ Ulama yang pertama lalu beliaupun masih sempat menginisiasi berkumpulnya Dewan Penasihat PA 212 dan Parpol koalisi keummatan untuk bicara dari hati ke hati di sebuah hotel bintang lima tempat beliau biasa nginap dan dapat fasilitas khusus dari pemiliknya.

Semangat beliau, ketulusan, adab dan akhlaknya nampak nyata dalam segenap keseharian juga aktivitas perjuangannya.

Saya ingat bagaimana dengan ramah, lembut dan sabar beliau memanggil saya, Hb Muhsin bin Ahmad dan Ustadz Sambo untuk bersatu menyamakan ritme dan irama perjuangan tetap dalam satu komando Imam Besar Hb Muhammad Rizieq Syihab yang juga Pembina Persaudaraan Alumni 212.

Rasanya beliau tak pernah menampik undangan setiap acara, aksi atau musyawaroh juga kongres 212 walau harus datang dengan infus lengkap dengan tabungnya seperti pada kongres Alumni 212, Reuni dan Ijtima pertama kemarin.

Tak cukup kata untuk mengurainya. Tak pandai saya untuk melukis dan merangkai kalimat untuk menggambarkan semuanya. Allah yang Maha Menyaksikan telah merekam semua aktivitas dan spirit perjuangannya.

Ada tiga ungkapan yang selalu saya ingat karena selalu diulang oleh beliau dalam setiap kesempata

1. Kereta Api dinamakan sepur, di atas sepur. ada kondektur. Daripada mati di atas kasur, lebih baik di medan tempur.

2. Jangan pernah Gentar.
Walau mereka bertindak kasar.
Dan dibantu aparat yang kesasar.
Kita adalah Tentara Muhammad Al Mukhtar.
Patriot Bangsa Indonesia yang besar.
Berani mati bela yang benar.
Mereka pasti akan terkapar.
Oleh tangan kita dibantu Malaikat al Abror.
Jangan pernah gentar, Allaahu Akbar.

3. Berani berjuang mati
Takut berjuang mati.
Maka teruslah berjuang sampai mati.

Beberapa hari lalu, sejak beliau masih dirawat di ICU RSUD Jember, saya sering berhubungan dengan putra beliau Ust Muhammad Thoha yang selalu mendampingi termasuk menyambungkan ke Imam Besar di Makkah menyampaikan pesan-pesan dan amanah Allaahu Yarhamhu.

Beliaupun dirujuk ke Rumah sakit Siloam Surabaya dan Alhamdulillah utusan DPP PA 212 diwakili Ketua Umum dan Bendahara Umum sempat menjenguk beliau di Rumah sakit.

Kemarin siang, ketika transit di Denpasar dalam perjalanan Dili Jakarta, saya mendapatakan kabar dari keluarga beliau dalam pesan WA. Ustadz, Aby telah pergi mendahului kita.

Innalillahi wa inna ilaihi  rajiun… selamat jalan Abuya. Selamat jalan Pejuang. Semoga tenang dan senang di sisi Allah Sang Penyayang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here