Imtizaj, Masjid Unik Bernuansa Klenteng

300

Muslim Obsession – Masjid merupakan simbol sekaligus tempat ibadah bagi umat Islam. Bangunannya pun, lebih banyak identik dengan arsitektur khas Timur Tengah.

Namun, apa jadinya bila sebuah masjid dibangun dengan gaya dan desain klenteng? Bangunan unik dan menarik lah jawabannya.

Seiring berkembangnya zaman, masjid tak lagi hanya berarsitektur khas Timur Tengah, melainkan juga bergaya oriental. Masjid Al-Imtizaj salah satu contohnya.

Bangunan masjid yang memiliki bentuk menyerupai klenteng atau tempat ibadah umat Kong Hu Cu ini dikemas menjadi tempat ibadah yang unik.

Selintas orang akan menyangka bangunan yang terletak di Jalan ABC No. 8 Banceuy, Bandung itu adalah klenteng. Tapi ketika melihat nama di papannya, Masjid Al-Imtizaj, barulah kita sadari bahwa itu adalah bangunan tempat beribadah umat Islam.

Masjid ini, memang sangat kental dengan aksen oriental. Bangunannya bergaya arsitektur Tiongkok dengan ciri khas yang sangat nyata terlihat pada atap berbentuk lengkungan. Dalam arsitektur China, atap disebut atap pelana sejajar gavel.

Warna kuning, emas, dan merah yang bagi etnis Tionghoa bermakna kemakmuran, mendominasi warna bangunan suci itu. Hiasan lampion berwarna merah pun terlihat bergelantungan di luar dan dalam masjid.

Uniknya, ada sebuah cawan warna emas berukuran besar yang menjadi tempat berwudhu. Keberadaan cawan itu semakin mengentalkan pengaruh budaya Tiongkok dalam bangunan masjid tersebut.

Di depan masjid, ada sebuah gapura dengan gerbang berbentuk oval yang menjadi pintu masuk ke area masjid. Atap dari gapura memang bergaya Tiongkok, namun di atasnya ada kubah yang menjadi ciri khas bangunan masjid.

“Makanya sering juga disebut kelenteng berkubah,” kata Ketua Dewan Keluarga Masjid (DKM) Al-Imtizaj, Ustadz Muhammad Yahya Ajlani.

Menurutnya, Masjid Al-Imtizaj diresmikan dan dibuka untuk umum pada 6 Agustus 2010. Pembangunan masjid berkapasitas sekitar 200 orang itu diprakarsai oleh mantan Gubernur Jawa Barat R. Nuriana dengan tujuan menyatukan komunitas-komunitas muslim Tionghoa yang banyak bermunculan di Kota Bandung, seperti Persatuan Islam Tionghoa Islam (PITI), Keluarga Persaudaraan Islam (KPI), dan Yayasan Ukhuwah Mualaf Indonesia (YUMI).

Komunitas-komunitas itu kemudian disatukan dalam sebuah organisasi yang diberi Ikatan Persaudaraan Tionghoa Islam (IPTI) yang mendorong rencana pembangunan Masjid Al-Imtizaj. Keberadaan masjid itu juga untuk mewadahi para mualaf dari etnis Tionghoa.

“Diberi nama Imtizaj, itu bahasa Indonesianya berarti pembauran. Kalau bahasa sananya (Mandarin), ‘ronghe’. Jadi diupayakan dengan masjid itu, ada pembauran antara yang lama dengan yang baru, antara pemerintah dengan Muslim sendiri, antara mereka (Muslim Tionghoa) dengan birokrasi pemerintahan. Inginnya masjid ini jadi pemersatu,” ujar Yahya.

Karena itu, menurut Yahya, arsitektur masjid yang didesain oleh Danny Suwardhani itu sangat kental dengan sentuhan Tiongkok.

“Lampion masih ada, warna merah kuning yang dipercaya oleh mereka sebagai lambang kemakmuran masih ada, tulisan dengan huruf Cinanya dipampang di gapura. Jadi ketika masuk masjid itu nyaman, enggak bikin shock mereka (Muslim Tionghoa),” ucapnya. (Ica)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here