Iman Tanpa Amal Saleh, Seperti Jiwa yang Kosong

352

Jakarta, Muslim Obsession – Sebagai orang muslim mengaku beriman saja tidak cukup. Orang yang beriman harus diwujudkan dengan amal saleh. Sebab, Iman tanpa amal itu hampa, sedangkan amal tanpa iman itu percuma. Iman dan amal saleh keduanya merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan.

Dalam buku berjudul Kesepaduan Iman dan Amal Saleh, Abdul Malik Karim Amrullah atau Buya Hamka menegaskan bahwa pertanda kosongnya jiwa serta binasa nya hati yaitu, ketika seorang Muslim sekadar mengaku beriman, tapi enggan mengerjakan amal saleh secara berkelanjutan.

Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali keimanan hanya dijadikan topang untuk meraih keuntungan tertentu, seperti halnya dalam politik. Namun, untuk mengerjakan amal saleh mereka lalai. Bahkan hampir tidak pernah.

Jika iman dan amal saleh adalah satu kesatuan, maka apabila salah satunya hilang, kesungguhan menjalankan Islam menjadi tidak sempurna. Iman tanpa amal itu hampa, sedangkan amal tanpa iman itu percuma.

Hal ini terlihat dari sabda Nabi SAW: Allah tidak menerima iman tanpa amal perbuatan dan tidak pula menerima amal perbuatan tanpa iman. (HR ath-Thabrani).

Dalam karyanya ini, Buya Hamka menjelaskan tentang bagaimana seharusnya menempatkan porsi iman dan amal saleh secara tepat sesuai tuntunan syariat.

Menurut Buya Hamka pada zaman modern ini, sebagian masyarakat mungkin masih banyak yang beranggapan bahwa shalat tidak harus berupa ritual ibadah.

Perempuan tidak harus menutup aurat, yang penting adalah menjaga hati, dan lain sebagainya. Anggapan semacam itu sangat bertolak belakang dengan ajaran agama Islam. Karena, Rasulullah sangat tekun melaksanakan ibadah dan amal saleh.

Saat mengerjakan shalat, kaki Rasulullah bahkan sampai bengkak. Uangnya pun tak pernah tersimpan lama di rumahnya karena langsung disedekahkan. Allah menjadikan manusia sebagai makhluk teristimewa.

Allah menciptakan manusia sebagai khalifah di bumi sehingga malaikat dan iblis pun disuruh sujud padanya. Sementara, manusianya sendiri justru banyak yang mengabaikan perintah-Nya.

Melihat fenomena semacam itu, Buya Hamka pun tergugah untuk menyusun tulisan-tulisannya berkenaan dengan keimanan yang lekat dengan amal saleh. Jika mengaku Islam, menurut Hamka, umat sudah selayaknya mengerjakan ibadah dan amal saleh lainnya.

Namun, sebaliknya amal saleh tanpa iman juga tidak dibenarkan dalam agama. Banyak orang yang kelihatan berbuat baik, padahal ia tak beriman. Ia banyak beramal, tapi hal yang dilakukannya tidak berlandaskan iman.

Padahal, Allah telah menegaskan dalam Alquran bahwasanya amal seseorang menjadi sia-sia jika mempersekutukan Allah dengan yang lain (Surah al-An’am ayat 88). Karena itu, umat membutuhkan iman agar amal saleh nya diterima oleh Allah.

Menurut Buya Hamka, iman yang baik akan menimbulkan amal yang baik. Sedangkan, amal yang baik tidak akan ada kalau imannya tidak ada. Hal ini sesuai dengan hadis Nabi SAW: Allah tidak menerima iman tanpa amal perbuatan dan tidak pula menerima amal perbuatan tanpa iman. (HR ath- Thab rani).

Hamka juga mengatakan, suatu amal yang timbul bukan dari iman pada hakikatnya adalah menipu diri sendiri. Mengerjakan kebaikan tidak dari hati adalah dusta. Jika manusia menegakkan kebaikan tidak dari iman, akan telantar di tengah jalan. Lantaran tidak ada semangat suci yang men dorongnya. (Albar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here