Imam Ahmad bin Hanbal dan Para Pemberontak

501
Ilustrasi: Dialog para ulama.

Oleh: Drs H. Tb Syamsuri Halim, M.Ag (Pimpinan Majelis Dzikir Tb. Ibnu Halim dan Dosen Fakultas Muamalat STAI Azziyadah Klender)

Di masa Watsiq bin Mu’tasim, Khalifah Bani Abbasiyah yang menjabat antara 842 sampai 847, para ahli fikih Baghdad dan pemberontak bersepakat menemui Imam Ahmad bin Hanbal. Kedatangan mereka untuk membicarakan penyimpangan-penyimpangan Al-Watsiq sekaligus merencanakan pemberontakan kepada khalifah di Baghdad.

“Sesungguhnya perkara ini telah memuncak dan tersebar, yaitu ucapan Al-Quran adalah makhluk. Hal inilah yang sangat tidak kami setujui dengan kepemimpinan Al-Watsiq,” begitu kata salah satu perwakilan para Fuqaha dan pemberontak.

Apa kata Imam Ahmad bin Hanbal?

“Wajib bagi kalian mengingkarinya hanya dalam hati. Jangan melepaskan tangan kalian dari kepatuhan kepada pemimpin. Jangan kalian menumpahkan darah kalian dan kaum muslimin. Renungkan akibat dari pemberontakan yang hendak kalian lakukan. Bersabarlah sampai orang baik hidup tentram dan selamat dari orang-orang jahat. Pemberontakan ini adalah tindakan yang tidak benar dan menyalahi ajaran para sahabat,” jawab Imam Ahmad dengan tegas dan bijaksana.

​Selang beberapa saat di tahun 847, Khalifah meninggal karena demam yang tinggi dan masa kepemimpinannya pun paling pendek karena hanya 5 tahun saja.

Wallahu a’lam bish shawab.

Referensi: Ibnu Muflih, Al-Adab asy-Syar’iyyah, I/175.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here