Ilmu

144

Oleh: Ustadz Farid Okbah, M.A. (UFO) (Ketua Bidang Agama PP Parmusi)

Manusia lahir tidak berilmu. Ilmu tidak bisa diwariskan tapi dipelajari. Surat Al-Quran yang pertama turun Al-‘Alaq, kita disuruh membaca atas nama Allah. ‘Allamal insaana maa lam ya’lam, agar manusia berilmu. Membaca ayat-ayat Al-Quran dan ayat-ayat kauniyyah, agar menguasai agama dan dunia. Mana yang lebih penting? Ya, agamalah.

Allah mengajarkan Nabi Muhammad ﷺ Al-Quran dan Assunnah,

وَلَوْلَا فَضْلُ اللّٰهِ عَلَيْكَ وَرَحْمَتُهٗ لَهَمَّتْ طَّاۤىِٕفَةٌ مِّنْهُمْ اَنْ يُّضِلُّوْكَۗ وَمَا يُضِلُّوْنَ اِلَّآ اَنْفُسَهُمْ وَمَا يَضُرُّوْنَكَ مِنْ شَيْءٍ ۗ وَاَنْزَلَ اللّٰهُ عَلَيْكَ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ وَعَلَّمَكَ مَا لَمْ تَكُنْ تَعْلَمُۗ وَكَانَ فَضْلُ اللّٰهِ عَلَيْكَ عَظِيْمًا

“Dan kalau bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu (Muhammad), tentulah segolongan dari mereka berkeinginan keras untuk menyesatkanmu. Tetapi mereka hanya menyesatkan dirinya sendiri, dan tidak membahayakanmu sedikit pun. Dan (juga karena) Allah telah menurunkan Kitab (Al-Qur’an) dan Hikmah (Sunnah) kepadamu, dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum engkau ketahui. Karunia Allah yang dilimpahkan kepadamu itu sangat besar,” (QS. An-Nisaa, 4: 113).

Rasulullah ﷺ mengajarkan dan mencontohkan kepada umatnya,

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًا

“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah,” (QS. Al-Ahzab, 33: 21).

Ilmu itu ada dua; ilmu yang bersumber dari Allah mutlak kebenarannya,

اَلْحَقُّ مِنْ رَّبِّكَ فَلَا تَكُوْنَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِيْنَ

“Kebenaran itu dari Tuhanmu, maka janganlah sekali-kali engkau (Muhammad) termasuk orang-orang yang ragu,” (QS. Al-Baqarah, 2: 147).

dan

فَذٰلِكُمُ اللّٰهُ رَبُّكُمُ الْحَقُّۚ فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ اِلَّا الضَّلٰلُ ۖفَاَنّٰى تُصْرَفُوْنَ

“Maka itulah Allah, Tuhan kamu yang sebenarnya; maka tidak ada setelah kebenaran itu melainkan kesesatan. Maka mengapa kamu berpaling (dari kebenaran)?” (QS. Yunus, 10: 32).

Sedang ilmu yang berasal dari manusia yang bukan utusan Allah itu bersifat relatif. Makanya kita harus mengedepankan ajaran Allah dari pada hawa nafsu manusia,

ثُمَّ جَعَلْنٰكَ عَلٰى شَرِيْعَةٍ مِّنَ الْاَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلَا تَتَّبِعْ اَهْوَاۤءَ الَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ

“Kemudian Kami jadikan engkau (Muhammad) mengikuti syariat (peraturan) dari agama itu, maka ikutilah (syariat itu) dan janganlah engkau ikuti keinginan orang-orang yang tidak mengetahui,” (QS. Al-Jatsiyah, 37: 18).

Makanya, orang berilmu itu dipuji Allah,

اِنَّمَا يَخْشَى اللّٰهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمٰۤؤُاۗ

“Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama,” (QS. Fathir, 35: 28).

dan dipuji oleh Rasulullah ﷺ:

 إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ الْعِبَادِ ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ . حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا ، اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا فَسُئِلُوا ، فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ ، فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

“Allah itu tidak akan menghapuskan ilmu dengan cara menghilangkannya sekaligus dari dada hamba-hamba-Nya, tetapi dengan mewafatkan para ulama. Hingga apabila tak tersisa seorang ulama pun, manusia akan mengangkat seorang pemimpin dari kalangan yang bukan ulama. Maka ketika ia ditanyai, ia akan memberikan fatwa bukan berdasarkan ilmu. Sungguh, ia sesat dan menyesatkan,” (HR. Bukhari dan Muslim).

Menurut Imam Hasan Al-Bashri, ulama tabiin, bahwa ulama ada 6 tandanya:

Pertama, zuhud terhadap dunia.

Kedua, semangat untuk akhiratnya.

Ketiga, dalam ilmu agamanya.

Keempat, kontinyu ibadahnya.

Kelima, bersih lisannya dari mencala orang muslim.

Keenam, tidak mau mengambil harta orang lain.

Para ulama mengatakan bahwa manusia itu butuh ilmu agama melebihi butuhnya kepada air, makanan dan oksigen. Kenapa? Kalau nggak dapat kebutuhan hidup itu maksimal mati, tapi kalau nggak dapat ilmu agama hancur dunia dan akhiratnya.

Bahkan Ibnul Qayyim menyebutkan dalam bukunya ’Miftah Daaris-Sa’adah’ bahwa pentingnya ilmu agama 300× dari pada ilmu dunia. Karena itu mereka berusaha untuk menjadi ulama.

Imam Syafi’ie menyebut bahwa ulama itu paling tidak harus menguasai 2000 masalah; wudhu itu satu masalah, shalat itu satu masalah, dst.

Imam Adz-Dzahabi menyebutkan bahwa ulama itu paling tidak menguasai 500 kitab.

Syaikh Dr. Muhammad Al-Hasan Ad-Daduw Asy-Syinqithi, ulama dari Mauritania, menyebutkan bahwa ulama itu paling tidak menguasai 40 cabang ilmu.

Pantas kalau Abdullah bin Mubarak, ulama taabiut-tabiin, mengatakan bahwa seorang ulama tidak boleh berfatwa sampai dia menguasai dalil (Al-Quran, Assunnah, ijma’, qiyas dll.) dan menguasai realita (ilmu humaniora).

Ada seorang muallaf dari Amerika Latin bertanya pada seorang ustadz di Indonesia; ‘di setiap negara itu ada muftinya, di Indonesia siapa muftinya?’ Ustadz itu menjawab: ‘Kalau di Indonesia setiap muslim itu mufti, tanya aja semua menjawab. Musibah.’

Nabi ﷺ membagi manusia menjadi 4:

Pertama, orang yang berilmu agama dan berilmu dunia. Sukses dunia dan sukses akhiratnya.

Kedua, berilmu agama tapi tidak berilmu dunianya. Susah dunianya tapi sukses akhiratnya.

Ketiga, berilmu dunianya tapi tidak berilmu agamanya. Sukses dunianya dan gagal akhiratnya.

Keempat, tidak berilmu agama dan juga tidak berilmu dunianya. Gagal dunia dan gagal akhiratnya. (HR. Ibnu Hibban. Shahih)

Pilih yang mana? Semoga kita pilih yang pertama. Amin.

 


Facebook: Farid Ahmad Okbah. MA

Instagram: @faridokbah_official

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here