IHW Imbau Umat Islam Buka Puasa di Restoran Halal

498
Direktur Eksekutif Indonesia Halal Watch, Ikhsan Abdullah (Foto: Bal)

Jakarta, Muslim Obsession – Direktur Eksekutif Indonesia Halal Watch (IHW) Ikhsan Abdullah mengimbau umat Islam agar saat berbuka puasa mencari restoran atau outlet yang telah bersertifikat halal.

Menurutnya, imbauan ini bukan sekadar untuk memboikot beberapa gerai makanan atau restoran yang tidak memiliki logo sertifikasi halal yang dikeluarkan dari LPPOM MUI, melainkan juga dalam rangka sosialisasi sistem jaminan halal sesuai amanat Undang-undang No.33 tahun 2014 tentang jaminan produk halal.

“Saya mengajak untuk menghindari bukan untuk memboikot. Saatnya mulai, gerakan ini bukan basa-basi tapi jadi kebutuhan kita. Bukan hanya terkait Islam, tetapi menjadi kebutuhan akan jasmani mengonsumsi makanan halal,” kata Ikhsan Abdullah di Restoran D’Consulate Lounge, Jakarta, Selasa (22/5/2018).

Ikhsan menyebut, dengan adanya gerakan seperti ini diharapkan restoran bisa memperjelas halal tidaknya makanan yang disajikannya untuk para konsumen.

“Kalau kita tidak masuk ke gerai makanan atau resto yang enggak ada sertifikasi halal, besok-besok restoran tidak bersertifikasi halal itu tidak ada lagi, karena mereka butuh costumer. Halal kini telah menjadi bagian dari gaya hidup,” ujarnya.

“Belanda saja kini memiliki badan sertifikasi namanya Halal Quality, itu belajar dari Majelis Ulama Indonesia (MUI), karena niat branding, tapi masih banyak restoran di Indonesia yang tidak mau daftar,” tambahnya.

Ikhsan pun menyebutkan beberapa tempat makan yang hingga kini belum memiliki sertifikasi halal, di antaranya Sate Senayan (Senayan Resto), BreadTalk, dan J.Co. Padahal menurutnya, IHW dan Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI) sudah memfasilitasi.

“Senayan Resto (sate senayan) tidak mau daftar. Lima kali surat kita tapi tidak di respon, Bread Talk, dan J.Co. Apakah anda mau makan yang nggak jelas? Kalau memang nggak halal cantumkan, padahal pemerintah sudah memberikan fasilitas,” ungkapnya.

“Kalau di Bali jelas, jika haram tertulis 100% haram. Ini mah haram nggak, halal nggak, kan nggak jelas,” tambahnya.

Dia juga menyayangkan melihat kondisi Indonesia yang mayoritas muslim tapi masih banyak produk yang belum memiliki sertifikasi halal. Untuk itu, dia berkomitmen untuk terus mensosialisasikan sertifikasi halal karena hal ini sudah menjadi kebutuhan.

“Gerakan ini tidak hanya sekedar basa-basi, tapi sekarang untuk kebutuhan, dan kesehatan. Karena pada umumnya makanan halal menyehatkan,” tegasnya. (Bal)

 

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here