IDI: Pasien Sudah Sembuh Tidak Bisa Menularkan Covid-19, Meski Positif Lagi

196

Jakarta, Muslim Obsession – Pasien yang sudah dinyatakan sembuh dari Covid-19 tidak menutup kemungkinan tertular lagi oleh virus. Namun, Ketua Satgas Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Profesor Zubairi Djoerban menegaskan, tes PCR positif pada pasien yang sudah dinyatakan sembuh tak lagi menularkan Covid-19.

“Setelah dinyatakan sembuh, pasien orang tanpa gejala (OTG) dan bergejala ringan itu tidak akan menularkan virus. Yang penting, mereka telah menjalani karantina atau isolasi mandiri sejak tes PCR konfirmasi positif,” tulis Prof Zubairi dalam akun twitternya belum lama ini.

Hasil tes PCR positif pada orang yang telah dinyatakan sembuh tidak mencerminkan virus Corona yang lengkap. Karena yang terdeteksi pada tes PCR tersebut hanya partikel dari Covid-19 yang tidak lagi menular.

Prof Zubairi turut menjelaskan bahwa, sudah ada penelitian yang mengkonfirmasi hal tersebut. Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Korea Selatan mempelajari 285 orang yang sembuh dari Covid-19, namun hasil tes PCR masih positif.

Hasil studi tersebut menemukan pasien sembuh yang masih positif berdasarkan tes PCR tidak ditemukan menyebarkan virus. Hanya saja ketentuan ini berlaku pada pasien bergejala ringan atau OTG.

“Sebab itu, masyarakat jangan memberi stigma terhadap OTG dan orang gejala ringan yang dinyatakan sembuh meski tanpa tes usap PCR ulang,” pungkasnya.

Senada dengan Prof Zubairi, salah seorang anggota Tim Penanganan Covid-19, dr Falla Adinda juga menegaskan, tidak sedikit yang salah kaprah ketika pasien telah melakukan isolasi mandiri selama 14 hari.

“Salah kaprah pasien Covid-19 yang bikin pasien lelah sendiri adalah nungguin nilai CT makin besar dan nungguin hasil PCR dari positif jadi negatif. Prinsipnya adalah pasien dinyatakan bisa kembali ke masyarakat bila sudah isolasi mandiri 14 hari dan bebas gejala. Sudah,” jelas dokter Falla lewat twitternya.

Jadi menurutnya, tidak perlu menunggu hasil PCR. Karena, kata dr Falla, bisa saja hasil PCR masih positif setelah periode isolasi mandiri sudah lewat. “Lah PCR cuma mampu menghitung jumlah virus, bukan membedakan mana virus mokat, mana virus aktif. Ngapain musingin bangke (virus),” tegasnya.

Menurut dia, akibat terlalu memusingkan hasil lab (tes PCR yang yang masih positif), pasien akan mengalami gangguan psikologis dan memperpanjang waktu isolasi sehingga produktivitas semakin menurun serta perilaku minum obat yang irasional (tidak masuk akal).

“Virus Sars-Cov-2 itu kalau sudah lebih dari 14 hari dalam tubuh, ya modyar (mati) dia. Risiko penularan sangat minimal. Makanya angka 14 hari isolasi mandiri terbit bukan tanpa studi. Pasien dianggap aman bisa kembali bermasyarakat di angka 14 hari karena dianggap tidak menularkan. Getoh,” jelas dr Falla. (Albar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here