Ibnu Sirin si Perawi Mimpi

265

Muslim Obsession – Meski terlahir dari keluarga bekas budak, Muhammad bin Sirin al-Anshari al-Anasi al-Bashri berkun-yah Abu Bakr, menjadi salah satu tabi’in (murid para sahabat Nabi) yang termasyhur pada masa itu.

Nasab dan status sosial rendah tidak menghalangi seseorang dari kemuliaan. Kedua orang tua Muhammad bin Sirin adalah bekas budak, namun sang anak menjadi tokoh terkemuka. 

Muhammad bin Sirin atau disingkat Ibnu Sirin, adalah seorang imam panutan dan Syaikhul Islam yang lahir di Basra, Irak pada tahun 653 M. Ayahnya adalah bekas sahaya Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu. Anas membelinya dari Khalid bin al-Walid yang menawannya di Ain at-Tamr di gurun pasir Irak dekat al-Anbar. 

Diriwayatkan oleh Ibnu Saad dalam Thabaqat-nya bahwa Muhammad bin Sirin adalah seorang yang sibuk setiap harinya. Beliau juga adalah seorang yang sering was-was. Sampai-sampai kalau berwudhu, ia mencuci kakinya hingga betis.

Sang Imam adalah seorang ahli fiqih dan banyak meriwayatkan hadits. Ia selain dikenal ketaatannya dalam beribadah, juga selalu berhati-hati dalam mencari rezeki, seorang yang rendah hati, berbakti pada ibu, mempunyai sifat wara’ atau menjauhi yang haram dan syubhat, menjaga kehormatan dan wibawa serta dikenal sebagai perwai mimpi. 

Terkait tafsir mimpinya, Muhammad bin Sirin dikaruniakan Allah memiliki ketajaman firasat dan kemampuan menafsirkan mimpi dengan tepat.

Suatu ketika, Muhammad bin Sirin pernah kedatangan seseorang yang bertanya padanya, “Aku bermimpi bahwa aku menjilat madu dari sebuah gelas minum yang terbuat dari permata.”

Ibnu Sirin menjawab, “Bertakwalah kepada Allah. Ulangilah hafalan Alquranmu. Karena sesungguhnya engkau membacanya kemudian melupakannya.”

Ada seorang yang bertanya, “Aku bermimpi buang air kecil darah.” Ia menjawab, “Apakah kau mendatangi istrimu dalam keadaan haidh?” “Iya”, jawabnya. “Bertakwalah kepada Allah dan jangan kau ulangi hal itu,” kata Ibnu Sirin.

Ibnu Sirin bermimpi seolah melihat bintang al-jauza mendahului bintang tsurayya. Kemudian ia berwasiat. Dan berkata, “al-Hasan al-Bashri akan wafat. Kemudian aku. Dan dia lebih mulia dariku.” (Ismail al-Ashbahani: Siyar as-Salaf as-Shalihin, Hal: 924-925).

Ada seseorang yang berkata pada Ibnu Sirin, “Aku bermimpi bahwa aku memegang gelas terbuat dari kaca yang berisi air. Kemudian gelas itu pecah. Tapi airnya tetap ada.”

Ibnu Sirin menanggapi, “Bertakwalah pada Allah. Engkau tidak mimpi apapun.” “Subhanallah,” kata orang tersebut.

Ibnu Sirin melanjutkan, “Siapa yang dusta, aku tidak menanggungnya. Tapi istrimu akan melahirkan kemudian meninggal. Sementara anaknya tetap hidup.” Saat orang tersebut pergi, ia berkata, “Demi Allah, aku memang tak memimpikan apapun.” Kemudian istrinya melahirkan dan meninggal (Ibnu Asakir: Tarikh Dimasyq, 53/232). 

Itulah salah satu karunia yang diberikan Allah kepada Ibnu Sirin. Menurut sejarah, Muhammad bin sirin wafat di Kota Bashrah pada 12 Januari 729 M. Tepat 100 hari setelah wafatnya al-Hasan al-Bashri. (Way/dari berbagai sumber)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here