Hukum Merayakan Tahun Baru dalam Pandangan UAS

89
Ustadz Abdul Somad (UAS).
Ustadz Abdul Somad (UAS).

Jakarta, Muslim Obsession – Umumnya pada saat pergantian tahun baru masyarakat banyak keluar ke pusat kota guna mencari hiburan dengan merayakan bersama teman-teman menyaksikan kembang api dan hiburan lain. Namun kali perayaan tahun baru tidak boleh dirayakan karena Covid-19.

Lalu sebenarnya apa hukumnya merayakan tahun baru dalam Islam?

Menurut Ustadz Abdul Somad atau UAS, malam tahun baru masehi banyak individu yang merayakannya dengan beragam latar belakang agama. Dalam agama Islam, UAS menjabarkan secara gamblang hukum merayakannya.

Ternyata, merayakan Tahun Baru tersebut identik dengan maksiat yang berasal dari hal-hal kecil di acara yang diselenggarakan. Misal, membuat acara untuk makan dengan bakar-bakar ayam sendiri sebenarnya tidak dosa.

“Tapi ketika masuk dalam ritual ibadah, meniup terompet, itu masuk dalam ritual. Apalagi, buang-buang waktu, sampai bawa anak gadis orang ke acara,” jelas UAS, dikutip dari kanal Youtube, Jumat (1/12/2020).

Dengan banyaknya ritual dan hal-hal kurang baik selama acara dilakukan, UAS menegaskan, itu bisa sarat dengan dosa yang kerap menghampiri. UAS pun dengan tegas menyebut dua barang yang paling laku saat malam Tahun Baru.

“Malam Tahun Baru yang paling banyak laku, paling pertama sabu, kedua kondom. Saking banyaknya orang buat dosa,” katanya.

Oleh sebab itu, kata UAS, kita perlu menjaga diri agar mencegah dari kemaksiatan. Beliau menyarankan untuk melakukan hal-hal positif saat Tahun Baru tiba, berdoa misalnya.

“Kalau ada mau buat acara dzikir, datang, dari jam 9 sampai jam 12. Lanjut solat itikaf dan tahajud. Selamatlah engkau, insyaallah,” paparnya. (Albar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here