Hukum Membaca Takbir Intiqal Ketika Shalat Berjamaah

410
shalat
Ilustrasi Shalat Berjamaah (Photo: The Conversation)

Oleh: Drs. H. Tb Syamsuri Halim, M.Ag (Pimpinan Majelis Dzikir Tb. Ibnu Halim dan Dosen Fakultas Muamalat STAI Azziyadah Klender)

Di antara permasalahan dalam shalat berjamaah adalah makmum tidak mendengar imam membaca Takbir Intiqal atau takbir perpindahan dari satu rukun ke rukun lainnya, kecuali ketika I’tidal.

Bagaimana hukumnya jika imam tidak membaca Takbir Intiqal? Sahkah shalat berjamaah tersebut?

Membaca takbir selain Takbiratul Ihram seperti takbir ketika akan ruku’, akan sujud, dan ketika bangun dari sujud dan ketika akan berdiri adalah ketetapan ijma’ umat berlandaskan qaul Ibnu Mas’ud yang berbunyi sebagai berikut:

الفقه الإسلامي وأدلته ج 2 ص 77

 التكبير عند الركوع والسجود والرفع منه، وعند القيام:

بأن يقول: ( الله أكبر ) وهو ثابت بإجماع الأمة، لقول ابن مسعود: «رأيت النبي صلّى الله عليه وسلم يكبّر في كل رفع وخفض، وقيام وقعود» (6) وهو يدل على مشروعية التكبير في هذه الأحوال إلا في الرفع من الركوع، فإنه يقول: سمع الله لمن حمده. وقد قال الحنابلة بوجوب التكبير، كوجوب ( سمع الله لمن حمده ) وقول (ربي اغفر لي ) بين السجدتين، والتشهد الأول

Dalam keterangan di kitab ‘Al-Fiqih Al-Islami wa Adillatuhu’ karya Syaikh Wahbah Zuhaili Allahuyarham, bahwa mengucapkan takbir (Allahu Akbar) adalah Ijma’ umat yang berlandaskan qoul Ibnu Mas’ud, yang kemudian qoul itu disyari’atkannya takbir pada setiap keadaan dalam shalat kecuali ketika akan bangun dari ruku, dengan mengucapkan sami’allahu liman hamidah.

Dalam konteks ini para ulama berselisih pendapat. Menurut ulama Imam Hanbali bahwa membaca takbir hukumnya wajib, sedangkan ulama Imam Syafi’i dan ulama Imam Maliki hukumnya Sunnah.

Dalam redaksi lain juga dijelaskan dalam kitab “Al-Fiqih ‘ala Madzahib Al-Arba’ah” karya Syaikh Abdurrahman Al-Jaziri sebagai berikut:

الفقه على المذاهب الأربعة ج 1 ص 289

 ويسن : جهر الإمام بالتكبير والتسميع والسلام كي يسمعه المأمومون الذين يصلون خلفه وهذا الجهر سنة باتفاق ثلاثة . وقال المالكية : إنه مندوب لا سنة

Dalam keterangan di atas dapat dipaparkan bahwa kerasnya suara imam dalam membaca takbir, tasmi’ dan salam, yang bertujuan supaya para makmun yang shalat di belakang imam mendengar, hukumnya Sunnah sesuai dengan kesepakatan tiga Imam.

Sedangkan menurut ulama Imam Maliki hukumnya mandub bukan sunah.

Tindakan makmun seharusnya tetap mengikuti gerakan yang dilakukan imam sesuai dengan ketentuan atau syarat-syarat menjadi makmum.

Ketika makmum meninggalkan/tidak mengikuti gerakan imam baik yang rukun dan Sunnah maka hukum shalatnya batal. Keterangan ini tercantum dalam kitab “Fathul Mu’in” di bawah ini:

فتح المعين  ص 30

و) منها (موافقة في سنن تفحش مخالفة فيها) فعلا أو تركا فتبطل صلاة من وقعت بينه وبين الإمام مخالفة في سنة كسجدة تلاوة فعلها الإمام وتركها المأموم عامدا عالما بالتحريم وتشهد أول فعله الإمام وتركه المأموم أو تركه الإمام وفعله المأموم عامدا عالما وإن لحقه على القرب حيث لم يجلس الإمام للاستراحة

Redaksi di atas ini menjelaskan tentang salah satu syarat makmun yaitu harus cocok atau tabi’ terhadap imam dalam keadaan apapun termasuk hal Sunnah. Maka sebaliknya, jika seorang makmum terlalu berseberangan dengan imam maka shalatnya batal, seperti permasalahan sujud tilawah ketika imam melakukannya dan makmun meninggalkan sujud tilawah dengan sengaja serta mengerti pelarangan tersebut, maka shalatnya batal.

Semoga bermanfaat.

Waallahu a’lam bish shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here