Hukum Berwudhu dalam Keadaan Telanjang

349

Oleh: Drs H. Tb Syamsuri Halim, M.Ag (Pimpinan Majelis Dzikir Tb. Ibnu Halim dan Dosen Fakultas Muamalat STAI Azziyadah Klender)

Disunahkan mengambil wudhu untuk menutup aurat jika berada pada tempat yang sepi, atau ditempat orang yang tidak melihatnya.

Namun jika terpaksa juga dalam keadaan aurat kita terbuka ketika berwudhu, maka hukumnya makruh tapi sah wudhunya.

Berkata Syeikh Muhammad Dusuki:

وأما مكروهاته فالإكثار من صب الماء وكثرة الكلام في غير ذكر الله والزيادة على الثلاثة في المغسول وعلى واحدة في الممسوح على الراجح وإطالة الغرة ومسح الرقبة والمكان الغير الطاهر وكشف العورة وكشف العورة أي مع عدم من يطلع عليها ، وأما كشفها مع وجود من يطلع عليها غير الزوجة والأمة فهو حرام لا مكروه فقط

“Dan adapun yang makruh ketika berwudhu itu adalah mengunakan banyak air ketika hendak berwudhu, berkata-kata yang bukan dzikirullah, membasuh lebih dari tiga kali pada anggota yang dibasuh, melebiihi batasan basuhan anggota wudhu atas pendapat shahih, melebihi membasuh muka dan menyapu tengkuk dan tempat yang tidak bersih, membuka aurat yakni ketika tidak ada orang yang melihatnya, dan ada pun membuka aurat ketika ada orang yang melihatnya selain isterinya dan sahayanya maka hukumnya adalah haram bukan makruh lagi,” (Kitab Hasyiah Dusuki)

Sementara itu dalam Kitab Fathul Muin dijelaskan:

وجاز تكشف له اى للغسل فى خلوة او بحضرة من يجوز نظره الى عورته كزوجة او أمة والستر افضل وحرم ان كان ثم من يحرم نظره اليها

“Dan ketika terpaksa membuka aurat untuk mandi pada tempat yang sepi atau jika terpaksa terlihat juga hanya pada istri dan budaknya, akan tetapi afdhalnya (lebih utama) menutup auratnya, dan haram jika terlihat selain mereka yaitu istri dan budak”.

Kesimpulannya, disunahkan bagi orang yang mengambil wudhu di tempat yang sepi dengan menutup auratnya.

Wallahu a’lam bish shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here