Hubungan Erat Indonesia dan Maroko

1627
Orang-orang suku Sahrawi melakukan fantasia Moussem di Tan-Tan, Maroko. (Photo: Maxim Massalitin, Wikipedia Commons)

Muslim Obsession – Bermula dari kisah Ibn Battuta, seorang ahli geografi dan penjelajah yang tinggal di abad pertengahan. Ibnu Battuta lahir pada tanggal 24 Februari 1304 dan meninggal pada usia 65 di Marinid, Maroko, tanah airnya.

Bukti untuk menguatkan hubungan Islam di Maroko dan Indonesia dapat dilihat dari persamaan ornamen ukiran kayu, yang kaya warna di atap beberapa masjid di Maroko dan dengan bangunan warisan budaya di Indonesia; seperti Masjid Sunan Gunung Jati di Cirebon dan Masjid Said Naum di Jakarta.

Hubungan erat antara Maroko dan Indonesia berasal dari kunjungan Battuta ke Tanah Rencong, Aceh pada tahun 1345. Batutta bertemu dengan Sultan Pasai yang pada waktu itu diperintah oleh Sultan Al-Malik Al-Zahir Jamal Ad-Din. Batutta menulis dalam buku hariannya bahwa pulau Sumatera kaya akan kamper, pinang, cengkeh, dan timah.

Ibnu Batutta tinggal di sebuah rumah kayu di Kesultanan Pasai selama dua minggu sebelum melanjutkan perjalanannya ke China. Ia telah singgah di Malaka selama beberapa hari dengan menggunakan salah satu kapal layar milik Sultan Pasai yang juga menyediakan semua peralatan untuk ini.

Meski banyak orang mengatakan bahwa Maroko jauh dari modernitas seperti di kota-kota besar dunia, sebenarnya negara ini unik. Terletak di benua Afrika, sehingga membuat negara 33,8 juta penduduk kaya akan budaya bercampur dengan nilai-nilai yang masih berdiri di sana.

Ouadia Benabdellah, Duta Besar Kerajaan Maroko

Suku Berber yang sangat tangguh dan tinggal di Gurun Sahara di bagian barat negara itu berasal dari Maroko. Ada sekitar enam bahasa yang digunakan oleh penduduk Maroko, yakni Arab, Berber, Arab-Maroko, Arab-Hassanya, dan Prancis. Di mana merupakan peninggalan kolonialisme dan hampir semua lapisan masyarakat dapat berkomunikasi dengan enam bahasa.

Ouadia Benabdellah adalah Duta Besar Kerajaan Maroko yang telah ditunjuk untuk jabatan diplomatik di Jakarta sejak 11 November 2016. Pria berusia 58 tahun itu merasa berkewajiban untuk menjalin hubungan bilateral yang harmonis antara Maroko dan Indonesia, dengan segala tantangannya.

Warga yang ramah di Jakarta, udara panas dan lembab, serta lalu lintas yang padat. Merupakan kesan pertama saat Benabdellah menginjakkan kaki di ibu kota. Setelah beberapa bulan, dia sudah merasa seperti orang Indonesia pada umumnya. Ia mulai terbiasa dengan kondisi jalanan di Jakarta yang hampir selalu ramai setiap hari.

Tidak mudah bagi Benabdellah untuk mengatakan makanan favoritnya di Maroko atau Indonesia. Dari sudut pandangnya, setiap hidangan memiliki rasa yang khas, berbagai bumbu yang digunakan untuk menghasilkan rasa dan aneka ragam pilihan makanan.

Sama seperti makanan, Benabdellah yang selalu terlihat ceria bahkan bisa ditertawakan saat ditanya dimana tempat liburan favoritnya di Indonesia. Meski dia menyebutkan Danau Toba, Bali, Lombok, Yogyakarta dan Bandung. Bahkan mungkin tujuan selanjutnya adalah Garut di Jawa Barat.

Mirip dengan Indonesia, mayoritas orang Maroko adalah 99% Muslim. Dengan semboyan Tuhan, Negara dan Raja. Negara yang disebut diberkati Tuhan ini menegakkan institusi kerajaan yang saat ini diperintah oleh Raja Mohammed VI Saadeddine Othmani.

Maroko juga disebut sebagai Al-Maghribi, yang dalam bahasa Arab berarti tempat di mana matahari terbenam. Tentu ada alasan mengapa negara ini disebut Al-Maghribi. Terutama disebut karena keindahan matahari terbenamnya. Hal ini terlihat jelas dari ujung pantai yang berada di tepi Laut Tengah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here