HR Rasuna Said, Wanita Minang di Kancah Politik

301
Hajjah Rangkayo Rasuna Said.

Oleh: Hendrajit (Direktur Eksekutif Global Future Institute)

Kalau pembaca cukup familiar dengan kawasan Kuningan, di bilangan Jakarta Selatan, pasti tak asing dengan jalan utama kawasan itu, jalan Rasuna Said. Namun untuk sebagian besar warga Jakarta, jangankan tahu dan mengenal sosok ini, bahkan apakah tokoh nasional kita ini pria atau perempuan pun, ternyata banyak yang masih belum tahu.

Hajjah Rangkayo Rasuna Said, begitulah nama lengkap beliau. Putri kelahiran Maninjau, Sumatera Barat ini, selain tokoh pendidikan dan pejuang wanita Indonesia terkemuka dari Sumatera Barat, juga merupakan salah seorang Pahlawan Nasional. Lahir pada 14 September 1910 dan wafat di Jakarta pada 2 November 1965.

Sebagai putri Minang yang dibesarkan dalam tradisi keluarga yang taat dan mendalami agama, Rasuna Said berguru pada Haji Abdul Karim Amrullah, ayah Buya Hamka. Alhasil, dengan berguru pada Haji Abdul Karim Amrullah, selain mendapat kedalaman ilmu agama, Rasuna Said juga memperoleh pengetahuan dan wawasan mengenai Pergerakan Islam modern.

Apalagi di tempat sekolah Rasuna Said belajar dan kemudian mengajar di kelas bawahnya, kegiatan politik di kalangan guru-giuru Islam di Minangkabau, sangat intensif, sehingga Rasuna Said terkondisi untuk berani mengemukakan pendapat mengenai pentingnya politik dan perlunya partisipasi pelajar di dalamnya. Untuk siswi semuda itu, kesadaran politik Rasuna Said cukup mengejutkan.

Betapa tidak. Adalah Rasuna Said pula yang menganjurkan agar pelajar diperlengkapi dengan berbagai macam keterampilan yang harus dimiliki seorang yang akan bergulat dalam pergerakan. Bahkan jika perlu, lanjut Rasuna, pelajaran agama dan kegiatan-kegiatan agama hendaknya memberikan kesempatan yang lebih banyak bagi latihan berpolitik. Yang berarti pula politik sebagai arena untuk menggembleng lahirnya para pemimpin dari lapisan generasi muda.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here