Hmmh.. Unik, Wali Kota Newcastle Pakai Sarung ke Kantor

614
Wali Kota Newcastle, Habib Rahman.

Muslim Obsession – Nama Habib Rahman sebagai Wali Kota Newcastle, Inggris, cukup dikenal, terutama di kalangan masyarakat Muslim. Tak hanya dikenal ramah, Habib juga diketahui sangat dekat dengan masjid.

Habib Rahman adalah muslim pertama yang terpilih sebagai Wali Kota Newcastle. Ia merupakan sosok sederhana yang kerap mengenakan sarung saat ngantor. Mengenakan sarung khas Muslimiin Bengkal, Habib Rahman berangkat ke kantor melakukan rapat dengan sejumlah ulama Islam bergamis di sana.

Habib mengaku bangga memakai sarung untuk menunjukkan keislamannya. Masyarakat Nonmuslim yang merupakan penduduk mayoritas pun secara umum tak mempersoalkannya.

BACA JUGA: Preston Sambut Wali Kota Muslim Pertama Javed Iqbal

Habib mengatakan, dirinya tidak membenci pria yang telah membunuh ayahnya 44 tahun lalu dalam serangan “rasis” atas kari.

Ayah Habib Rahman, Azizur, ditikam di sebuah restoran di Wallsend pada tahun 1977, 10 hari setelah tiba dari Bangladesh melalui London.

Habib mengatakan, keluarganya telah memaafkan pembunuh Norman Patterson, yang dipenjara selama delapan tahun.

Sebuah persidangan pembunuhan pada saat itu mendengar Patterson tidak senang dengan ukuran makanannya sehingga kembali ke restoran milik saudara laki-laki Azizur dengan bersenjatakan pisau.

Dia menikam Azizur sampai mati dan dipenjara karena pembunuhan karena berkurangnya tanggung jawab.

BACA JUGA: Muslim Sadiq Khan Terpilih Kembali Sebagai Wali Kota London

Habib yang berusia tiga tahun ketika Azizur terbunuh, mengatakan kepada BBC, Rabu (2/6/2021), bahwa dia “marah” dengan kebencian yang ditunjukkan kepada ayahnya dalam serangan “rasisme brutal” yang “dingin dan diperhitungkan”.

Tetapi berbicara di luar restoran lebih dari empat dekade kemudian, Habib berkata: “Kami tidak membenci orang yang melakukan itu”.

“Dia telah menjalani hukumannya, jika saya boleh menambahkan, mungkin bukan hukuman yang seharusnya dia terima, tetapi itu terjadi pada tahun ’77 di mana, jika saya jujur, rasisme institusional berada di garis depan, tetapi tetap saja hukum tanah berbicara, dia telah menjalani hukumannya. Kami tidak memiliki permusuhan atau perasaan tidak enak atau kebencian terhadap dia atau keluarganya,” sambungnya.

Habib yang pindah ke Newcastle ketika dia berusia 12 tahun, memuji ibunya sebagai “menara kekuatan dan simbol kemanusiaan yang sejati” yang telah memimpin keluarga dalam memaafkan si pembunuh sesuai dengan keyakinan Islam mereka.

Meski tak menampik dirinya telah mengalami pelecehan rasis ketika dia tumbuh besar di kota tersebut, namun saat ini ketika kembali ke tempat pembunuhan ayahnya, Habib mengaku dia merasa aman. (Fath)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here