Hikmah Rahmani: Redupnya Lentera Dunia

265

Oleh: Habib Abdul Rahman Al-Habsyi (Majelis Sahabat Iman Peduli/Ketua Yayasan Syekh Ali Jaber)

Setiap orang pasti akan merasakan kematian, walaupun arti “merasakan” itu tidak sama dengan yang dipersepsi oleh orang yang hidup.

Kematian adalah salah satu bagian dari kehidupan yang pasti dijalani, sama seperti kelahiran. Bedanya adalah yang pertama menandai akhir dari suatu kehidupan, sedangkan yang terakhir menandai awal dari suatu kehidupan.

Kelahiran dan kematian bisa diandaikan seperti ujung dari seutas tali yang bernama kehidupan, berbeda titik tetapi terentang sepanjang usia.

Manusia tidak akan pernah mengerti hakikat kehidupan jika ia tidak mau mengingat arti dan hakikat kematian. Allah berfirman,

“Tiap-tiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati,” (QS Ali-Imran: 185).

Berdasarkan firman Allah ini telah jelas bahwa manusia pasti akan menghadapi kematian kapan pun, di mana pun dan dalam keadaan apa pun.

Kehadiran para ulama dan para pengajar Al-Quran dan sunah merupakan rahmat bagi penduduk bumi. Melalui jasa mereka, masyarakat menjadi paham tentang hakekat syariat. Dan Allah mencabut ilmu agama bagi penduduk bumi, dengan Allah wafatkan para ulama.

Dalam hadis dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhuma, Nabi ﷺ bersabda,

“Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla tidak akan mencabut ilmu dari umat manusia dengan sekali cabut. Akan tetapi, Dia akan mencabut dengan mematikan para ulama (ahlinya). Sampai apabila Dia tidak menyisakan seorang alim, umat manusia akan menjadikan orang-orang yang bodoh sebagai pimpinanpimpinan mereka. Mereka ditanya (oleh umatnya) lantas menjawab tanpa ilmu, sehingga mereka sesat dan menyesatkan,” (Muttafaqun ‘alaih).

Bahkan Ibn Katsir dalam kitab Tafsirnya menukil pandangan Ibn Abbas yang menyatakan bahwa: “Nilai istimewanya bumi berkurang secara perlahan dengan wafatnya Para Ulama”.

Maksud dari ucapan Ibn Abbas adalah: “Ketika ulama meninggal, kebodohan mudah tersebar. Terlebih ketika orang bodoh angkat bicara masalah agama. Sehingga pelanggaran agama akan semakin mudah tersebar dan meraja lela. Bumi kehilangan ruh kebaikannya.

Baru saja kemaren pagi (14/1) jam 08.30 kita semua dikejutkan dengan Wafatnya ulama kharismatik dan Ahlul Quran, Syekh Ali Jaber. Bagi orang sholeh seperti beliau, perjumpaan dengan Robbul Aalamiin, adalah dambaannya. Sebagaimana sabda Nabi yang menyatakan salah satu ciri seorang hamba Allah yang Mu’min adalah sangat mencintai perjumpaan dengan Allah.

Dan juga dalam Al-Quran pun menyatakan:

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu di dalam taman-taman dan sungai-sungai, di tempat yang disenangi di sisi Tuhan Yang Berkuasa,” (QS. Al-Qamar: 54).

Namun, bagi kita; ini adalah suatu kehilangan besar. Karena redupnya salah satu lentera yang selalu menerangi hati-hati ummat dengan mutiara-mutiara hikmah dan kebajikan.

Para ulama itu wafat sambil mengukir sejarah indah nan cantik. Wafatnya diiringi peristiwa yang dikenang manusia dari generasi ke generasi.

Imam Ibn Katsir dalam kitab tafsirnya menyatakan:

“Peliharalah Islam ketika kamu sehat wal afiat, agar engkau mati di atas islam. Sesungguhnya Dzat yang Maha mulia dengan kemurahan-Nya akan memberlakukan seseorang sesuai kebiasaannya. Bahwa orang yang memiliki kebiasaan tertentu dalam hidup, dia akan mati sesuai kebiasaannya. Dan siapa yang mati dalam kondisi tertentu, dia akan dibangkitkan sesuai kondisi matinya. Sungguh kita berlindung kepada Allah, jangan sampai menyimpang dari kebenaran”.

Salah satu barometer keimanan seseorang adalah merasa sedih dengan kematian ulama. Karena hanya Iblis lah yang berbahagia dengan kematian ulama.

Diriwayatkan dari Imam Baihaqi dari hadis Ma’ruf bin Kharbudz dari Abu Ja’far radhiyallahu ‘anhu berkata: “Kematian ulama lebih dicintai Iblis daripada kematian 70 orang ahli Ibadah.”

Bahkan Dalam Kitab Tanqih Al-Qaul, Imam Jalaluddin As-Suyuthi menuliskan sebuah hadits Rasulullah ﷺ yang berbunyi:

وقال عليه الصلاة والسلام: {مَنْ لَمْ يَحْزَنْ لِمَوْتِ العَالِمِ، فَهُوَ مُنَافِقٌ مُنَافِقٌ مُنَافِقٌ} قالها ثلاث مرات

“Barangsiapa yang tidak sedih dengan kematian ulama maka dia adalah munafik.”

Kesedihan atas wafatnya Ulama tidak bisa dibuat-buat atau pun direkayasa. Allah SWT Pencipta Alam Raya, Sang Penggenggam dan Pemilik hati-hati manusia akan sangat tahu lintasan hati manusia.

Selamat jalan saudaraku, sahabatku Syekh Ali Jaber. Kami paham betul bahwa Allah SWT lebih jauh mencintaimu daripada kami yang di dunia ini. Doa-doa indah kami selalu menyertaimu.

إِنَّ لِلَّهِ مَا أَخَذَ وَلَهُ مَا أَعْطَى، وَكُلٌّ عِنْدَهُ بِأَجَلٍ مُسَمًّى

“Milik Allah apa yang Allah ambil, dan milik Allah pula apa yang Allah berikan. Dan segala sesuatu telah Allah tetapkan batas waktunya”.

Barokallah Fiikum. 🤗

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here