Hiduplah Sebagai ‘Syuhada Alannaas’

106
Mohammad Natsir (Foto: Istimewa)

Oleh: Mohammad Natsir

DALAM menghadapi masa sekarang, janganlah kita selalu menonjol-nonjolkan mana yang halal mana yang haram, mana yang batil mana yang hak; karena soal itu telah membosankan kepada telinga yang tidak mau menerimanya.

Hendaknya kita pandai menunjukkan dengan bukti mana yang hak itu dan mana yang batil, bukan dengan kata-kata belaka, tetapi dengan amal perbuatan yang nyata dapat dilihat manfaatnya oleh mereka yang meragukan.

Dunia kita sekarang penuh dengan persoalan-persoalan yang meminta penyelesaian, dan setiap penyelesaian itu meminta pikiran di mana tiap-tiap aliran mempunyai tujuan masing-masing. Berkenaan dengan inilah kita jangan membatasi diri dengan hanya menonjolkan yang tidak baik saja, tetapi harus berani menunjukkan jalan yang harus ditempuh.

Umat Islam kini sudah insaf kembali bahwa mereka mempunyai risalah yang semenjak berabad-abad terpendam. Risalah yang sudah ada semenjak Nabi sampai sekarang. Ada pun yang menyebabkan terpendamnya risalah itu ialah karena umat Islam telah menjadi makanan bangsa-bangsa lain disebabkan sudah lupa akan harga dirinya dan kemudian memiliki sifat penakut dan kikir.

Dalam abad kedua puluh kita melihat kesadaran dan kebangunan umat Islam kembali yang ratusan juta jumlahnya itu dari Maroko sampai Merauke.

Mereka bangun membongkar penjajahan, penindasan, kemiskinan, dan kebodohan.

Dalam arus kebangunan ini, setiap Muslim harus memasuki gelanggang masyarakat, bukan menjauhkan diri, agar dapat merombak mana yang tidak baik.

Di dalam dan di tengah-tengah masyarakat yang sakit dan bobrok itulah kita harus berdiri, syuhada ‘alannaas, menjadi saksi atas kebaikan sesuatu di depan manusia umum. Mempertahankan pendirian (akidah) kita dengan jihad. Barulah hidup ini ada nilainya. (**)

Sumber: Majalah Hikmah 9 Oktober 1954

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here