Hiduplah dengan Penuh Syukur

207

Oleh: Ahmad Tavip Budiman (Komisi I MUI Kota Bogor, Ketua DMI Kecamatan Bogor Selatan)

Sebagai manusia seringkali kita mengabaikan syukur. Kita merasa segala yang didapatkan adalah hasil kerja keras atau jerih payah sendiri. Menganggap keberhasilan dan kesuksesan yang diraih karena kecerdasan otak dan kekuatan fisik kita semata.

Seringkali kita lupa bahwa ada yang membantu, memberi jalan dan memuluskan langkah kita dalam meraih itu semua.

Siapa sesungguhnya yang melunakkan hati orang lain hingga mau bekerja sama, sehingga kita berhasil meraih sesuatu yang diinginkan? Sejatinya adalah Allah.

Maka sudah selayaknya manusia beryukur kepada Allah atas semua itu. Syukur adalah bentuk dari rasa terima kasih kepada-Nya atas semua yang telah Dia lapangkan dan mudahkan untuknya.

BACA JUGA: Inti Ibadah adalah Akhlak

Syukur adalah pengakuan kerendahan hati bahwa apa pun yang diraih bukanlah karena faktor diri kita sendiri.

Di situ ada Allah yang membantu dan menggerakkan serta membuka jalan untuk meraih apa yang kita harapkan, impikan, dan cita-citakan. Dengan syukur, akan disadari, sejatinya kita bukanlah apa-apa tanpa campur tangan atau keterlibatan Allah.

Ibnul Qayyim Al-Jauzi dalam kitab Madarij As-Salikin mengatakan, “Syukur adalah menunjukkan adanya nikmat Allah pada dirinya. Dengan melalui lisan berupa pujian dan mengucapkan kesadaran diri bahwa ia telah diberi nikmat. Melalui hati berupa persaksian dan kecintaan kepada Allah dan melalui anggota badan berupa kepatuhan dan ketaatan kepad Allah”.

Orang lain hanyalah sebatas wasilah atau perantara Allah melimpahkan karunia-Nya dan membuka jalan rezeki-Nya. Sehingga, selain bersyukur atau berterima kasih kepada orang lain, ia juga semestinya bersyukur kepada Allah.

Nabi Saw. mengatakan, “Orang yang paling pandai bersyukur kepada Allah adalah orang yang paling pandai bersyukur (berterima kasih) kepada manusia,” (HR. Ath-Thabrani).

Dalam hadits lain, beliau bersabda, “Siapa yang tidak mensyukuri nikmat yang sedikit maka dia tidak akan dapat mensyukuri nikmat yang banyak,” (HR. At-Tirmidzi).

Syukur akan membawa manusia pada sikap tawadhu atau rendah hati, tidak sombong. Syukur juga mencegah seseorang untuk berambisi terlalu jauh hingga melanggar hukum atau menghalalkan segala cara.

Orang yang rakus terhadap sesuatu tanpa pernah merasa puas, itu salah satu tanda tidak bersyukur.

Syukur akan selalu menempatkan seseorang di jalan yang benar, lurus, dan baik. Syukur juga akan membuat seseorang selalu optimis menjalani kehidupan.

Orang yang bersyukur tidak akan pernah iri hati dengan apa yang diraih orang lain, karena ia sepenuhnya sadar, dirinya juga mendapatkan bagiannya sendiri dari Allah.

Nabi pernah memberikan ilustrasi perihal orang yang bersyukur, “Ada dua hal yang apabila dimiliki oleh seseorang maka dia dicatat oleh Allah sebagai orang yang bersyukur dan bersabar. Dalam urusan ibadah dia melihat kepada yang lebih tinggi, lalu menirunya dan berusaha melampauinya. Dalam urusan dunia, dia melihat kepada orang yang rezekinya lebih sedikit, lalu bersyukur kepada Allah bahwa dia masih diberi kelebihan dibanding orang itu,” (HR. At-Tirmidzi).

Manusia perlu bersyukur kepada Allah sebelum terlambat. Sebab, itu merupakan bentuk kesadaran betapa segala yang manusia miliki sejatinya adalah dari Allah.

Ibnu Athailah As-Sakandari dalam kitab Al-Hikam mengingatkan, “Orang yang tidak menyadari kadar karunia Allah saat sedang menikmatinya, maka ia akan menyadarinya ketika karunia itu telah lenyap”.

Manusia sering kali lupa bersyukur ketika menikmati karunia atau rezeki yang didapatkan. Ia baru ingat ketika rezeki itu tiba-tiba lenyap. Allah sangat mudah memberi nikmat, juga mudah menghilangkannya dalam sekejap jika orang yang diberi nikmat itu tidak mensyukurinya.

Hidup mesti penuh dengan syukur agar nikmat yang telah didapatkan tak mudah lepas, malah bertambah dan berkah.

Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here