Hawa Nafsu atau Bisikan Setan? Begini Cara Mudah Membedakannya

124
Buya Yahya.

Muslim Obsession – Hawa nafsu dan bisikan setan oleh sebagian orang dinilai sama. Pasalnya, baik hawa nafsu maupun setan sama-sama menjerumuskan manusia kepada perbuatan dosa.

Namun demikian, rupanya hawa nafsu dan setan merupakan dua hal yang berbeda. Bahkan hawa nafsu memiliki tingkatan lebih tinggi dibandingkan setan dalam hal menyesatkan manusia.

“Hawa nafsu selalu mengajak kepada kehinaan. Nafsu yang ada dalam diri lebih keji daripada 70 setan,” ungkap Buya Yahya dalam sebuah video ceramahnya.

BACA JUGA: Bagaimana Hukum Bekerja kepada Non Muslim? Halalkah Gajinya? Ini Kata Buya Yahya

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Bahjah ini menjelaskan, sebagai sesama sumber yang menyesatkan manusia, hawa nafsu paling pandai berkomunikasi dengan setan. Meski pada dasarnya, hawa nafsu yang berada di dalam diri dinilai lebih berbahaya daripada setan yang berasal dari luar.

“Entenglah setan. Tapi kalau sudah hawa nafsu, subhanallah. Hawa nafsu itu seram,” tandasnya.

Menurutnya, saking berbahayanya hawa nafsu, ketika membahas persoalan hawa nafsu maka para ulama akan membahasnya dengan sangat panjang dan detail. Ini mengindikasikan betapa persoalan hawa nafsu merupakan tantangan paling berat karena letaknya ada di dalam diri setiap manusia.

Buya Yahya memberikan contoh sederhana untuk membedakan hawa nafsu dan bisikan setan.

“Hawa nafsu itu bisa dalam bentuk ibadah. Sedekah, contohnya. Misalkan, dia rajin sedekah tapi ibunya kelaparan atau istrinya tidak diberi nafkah. Dia rajin bersedekah, bibinya masuk rumah sakit tapi dia tidak membantu,” ujarnya.

“Dia rajin ke masjid, i’tikaf. Tapi di rumah, istrinya ketakutan. Padahal menemani istri juga berpahala. Misalkan di akhir 10 Ramadhan dia merasa harus i’tikaf di masjid, tapi istrinya ketakutan di rumah. Ini antara dua, dia bodoh atau beribadah dengan hawa nafsu,” lanjutnya.

Buya menegaskan, persoalan hawa nafsu hanya diketahui oleh pelakunya karena ada di dalam diri si pelaku. Adapun orang lain hanya bisa melihat tanda-tandanya. Oleh karenanya setiap orang dianjurkan untuk mengkoreksi diri sendiri. (Fath)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here