‘Hari-Hari’ itu Pasti Dipergilirkan

213

Oleh: Ustadz Buchory Muslim (Ketua Lembaga Komunikasi dan Penyiaran Islam PP PARMUSI – Direktur An Nahl Institute Jakarta)

Alláh عز وجل berfirman:

إِنْ يَمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ الْقَوْمَ قَرْحٌ مِثْلُهُ ۚ وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَاءَ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ

“Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Alláh membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada’. Dan Alláh tidak menyukai orang-orang yang zhalim,” (QS. Ali Imron: 140).

Hidup di dunia ini benar-benar Alláh عزوجل perlihatkan kekuasaan dan kemahabijaksanaan-Nya. Di antara hikmah itu adalah bahwa dunia ini telah Alláh berikan kepada orang yang beriman dan orang kafir, orang baik dan orang jahat, orang adil dan orang zhalim.

Begitulah Alláh menggilir hari (masa kejayaan dan keruntuhan) di antara manusia, hari ini untuk kelompok itu dan hari yang lain untuk kelompok lainnya, karena negeri dunia ini musnah dan fana, hal ini tentunya berbeda dengan negeri akhirat, karena negeri itu khusus bagi orang-orang yang beriman. “Dan supaya Alláh membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir).”

Ini juga di antara hikmah-hikmahnya, yaitu bahwa Alláh menguji hamba-hamba-Nya dengan kekalahan dan musibah, agar akan nampak jelas antara mukmin dan munafik.

Karena bila kemenangan itu selalu bersama kaum mukminin dalam seluruh peperangannya, niscaya akan masuk ke dalam Islam orang-orang yang tidak menginginkannya.

Namun apabila terjadi beberapa bentuk cobaan pada beberapa peperangan mereka, niscaya akan jelaslah seorang mukmin hakiki yang menghendaki Islam, baik dalam kondisi susah dan senang, sulit dan lapang dari orang yang tidak demikian, “dan supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada (orang-orang yang mati syahid).”

Hal ini juga merupakan hikmah, karena syahid di sisi Allàh adalah termasuk derajat yang paling tinggi, dan tidak ada jalan untuk memperolehnya kecuali dengan memperoleh sebab-sebabnya.

Ini merupakan rahmat-Nya bagi hamba-hamba-Nya yang beriman, yaitu dengan membuat untuk mereka sebab-sebab yang dibenci oleh jiwa agar Dia memberikan kepada mereka sesuatu yang mereka sukai dari derajat yang tinggi dan kenikmatan yang abadi.

“Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zhalim, ” yaitu orang-orang yang menzhalimi diri mereka sendiri dan meninggalkan peperangan di jalan-Nya.

Ayat ini menggambarkan sebuah sindiran dengan mencela kaum munafik dan bahwa mereka itu dibenci oleh Alláh. Oleh karena itu, Alláh membuat mereka meninggalkan peperangan di jalan-Nya.

Dan sekiranya mereka hendak ikut pergi, pastilah mereka akan mengadakan persiapan itu, akan tetapi Alláh membenci keikutsertaan mereka hingga Alláh membuat mereka meninggalkannya dan agar dikatakan kepada mereka, “Tinggallah bersama orang-orang yang tinggal (tidak ikut berperang)”.

Begitu juga dengan peristiwa dan kejadian yang kita alami dalam kehidupan  kita di masa kini. Intinya bahwa kita semua sedang mengalami ujian. Ujian yang sangat berat! Untuk mengukur, masihkah kita bersabar dan beriman? Atau malah kabur dan putus asa? Kita sendirilah  yang menentukan posisi kita.

والله أعلم وبارك الله فيكم

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here