Hanya Karena Beragama Islam, Seorang Profesor Didemo Mahasiswa di India

156
Profesor Feroz Khan mendapat tentangan dari mahasiswanya karena mengajar Sanskerta.

Muslim Obsession – Aksi demonstrasi dilakukan mahasiswa Universitas Hindu Banaras (BHU) di Kota Varanasi, India Utara, menentang penunjukkan seorang profesor Muslim yang ditugaskan untuk mengajar sastra Sanskerta.

Mereka berlasan, Feroz Khan, profesor yang beragama Islam ini tidak dapat mengajarkan bahasa yang sering dikaitkan dengan agama Hindu kuno.

Dilansir BBC, berita tentang penugasan Khan beredar di kampus pada 6 November silam. Merespon berita tersebut, sekitar 30 mahasiswa melakukan aksi duduk di luar kantor wakil dekan untuk melakukan demonstrasi.

Chakrapani Ojha, salah satu mahasiwa yang memimpin aksi protes merupakan anggota Akhil Bharatiya Vidyarthi Parishad, organisasi sayap mahasiswa BJP (Partai Bharatiya Janata).

Dia mengatakan penunjukkan Profesor Khan melanggar hukum universitas, meski para pejabat dari universitas menyebut Khan tidak melanggar aturan apa pun.

“Universitas dengan suara bulat memilih kandidat terbaik untuk pekerjaan itu,” kata seorang pejabat kampus.

Namun, bagi sebagian mahasiswa yang menentang, masalah utamanya terletak pada agama yang dianut Khan.

“Jika seorang profesor mengajar di Fakultas Sanskerta, maka kebesaran agama Hindu akan terpengaruh,” ujar Anand Mohan Jha.

Di tengah seruan pemecatannya, ada juga guru yang mendukung Profesor Khan.

“Selama lebih dari 30 tahun, seorang pria Hindu mengepalai departemen yang mencakup bahasa Urdu, Farsi, dan Arab. Bahkan, dia memiliki gelar yang memungkinkannya untuk mengajarkan Al-Quran,” ujar Kepala Departemen Urdu di universitas itu, Aftab Ahmad Afaqi.

“Departemen Urdu juga memiliki profesor-profesor Hindu. Agama dan bahasa adalah dua hal yang sangat berbeda,” tambahnya.

Profesor Khan juga mendapat dukungan dari banyak mahasiswa. Pada aksi dukungan yang dilakukan untuknya, mahasiwa membawa spanduk bertuliskan ‘Kami mendukungmu, Dr Feroz Khan’.

“Aksi protes terhadapnya itu bodoh dan sewenang-wenang,” ujar seorang mahasiswa, Rashmi Singh.

Mereka mengemukakan, India adalah negara yang demokratis dan sekular, pemilihan seorang profesor tidak dapat didasarkan pada agama atau kasta.

Saat ini diberitakan para mahasiswa itu telah berhenti melakukan aksi di kampus, namun mereka mengatakan akan terus memboikot kelas sampai profesor diberhentikan.

Kendati begitu, Profesor Khan mengatakan dia tak mengerti apa hubungan agama dengan keahliannya dalam bahasa.

“Mengapa jadi masalah jika seseorang dari agama tertentu belajar dan mengajar bahasa yang terkait dengan agama lain? Saya belajar Sansekerta karena saya ingin memahami sastra bahasa ini,” keluhnya.

Ketika Firoz Khan ditawari pekerjaan pertamanya untuk mengajar sastra Sansekerta di Universitas Hindu Banaras (BHU) yang bergensi, dia tidak bisa menahan kegembiraannya.

Minggu ini adalah tiga minggu sejak penugasannya, namun hingga kini dia belum mengadakan satu kelas pun.

Hubungan Profesor Khan dengan bahasa klasik yang termasuk dalam bahasa Indo-Aryan dan menjadi akar dari banyak bahasa India, cukup personal.

“Ketika ayah saya memutuskan untuk mengirim saya sekolah, ia memilih sekolah yang mengajarkan dalam bahasa Sanskerta, sebab dia juga mempelajarinya dan menyukai bahasa itu. Kecintaaan saya dan pergaulan saya dengan bahasa Sanskerta dimulai ketika saya masih kecil di sekolah,” katanya.

Pada masa India kuno, Sanskerta adalah bahasa utama yang digunakan oleh para sarjana dan kadang-kadang disebut sebaga devabhasa, atau bahasa para dewa.

Kini, bahasa itu digunakan oleh kurang dari 1% orang India dan sebagian besar digunakan oleh para pendeta Hindu dalam upacara keagamaan.

Partai Bharatiya Janata yang kini tengah berkuasa memiliki agenda untuk menghidupkan kembali bahasa tersebut, yang terkait erat dengan agama dan teks-teks agama Hindu. (**)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here