Hakikat Puasa Menurut Gus Miftah

65
KH. Miftah Maulana Habiburrahman atau Gus Miftah.

Jakarta, Muslim Obsession – Ash-shaum dan ash-shiyam atau yang akrab dalam bahasa Indonesia puasa, sebenarnya punya banyak makna dan arti. Puasa bukan hanya diartikan sebagai ritual ibadah menaham lapar dan haus tapi, lebih dari itu, puasa punya arti luas.

Demikian dijelaskan oleh Gus Miftah Maulana Habiburrahman. Ia menguraikan puasa asalnya bermakna menahan sehingga hakikat dari puasa, menurutnya, adalah pengendalian. Pengendalian bukan hanya soal tidak makan dan minum, tapi lebih dari itu, mengendalikan nafsu.

“Maka puasa itu pada hakikatnya adalah pengendalian,” katanya dalam Buka Bersama dan Doa untuk Negeri yang digelar oleh Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PP IPNU) dan Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (PP IPPNU) bersama Majelis Alumni IPNU dan IPPNU Pusat di Gedung Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, Kamis (29/4).

Dai milenial itu memang mendorong kader-kader IPNU dan IPPNU untuk lebih mengeksplorasi diri dalam menggali pengalaman dan pengetahuan sebanyak mungkin. Namun, hal tersebut harus disertai dengan pengendalian. Pasalnya, tak sedikit yang pada akhirnya justru melampaui batas.

“Saya pikir teman-teman IPNU-IPPNU ini Ketika di usia-usia seperti kalian, eksplor itu harus, tapi tentunya dengan pengendalian diri. Banyak di antara kita yang kemudian kebablasan eksplornya, tapi tidak bisa mengendalikan diri,” ujarnya.

Misalnya, kata dia, saat baru keluar dari pesantren, khazanah keilmuan pesantrennya ditinggalkan karena memasuki dunia baru dengan bacaan-bacaannya yang berbeda.

Hal ini yang, menurutnya, tidak boleh terjadi mengingat dampaknya terhadap sekolah dan kampus yang akhirnya dikuasai oleh mereka yang tidak memegang paham Ahlussunnah wal Jama’ah an-Nahdliyah.

“Maka jangan kaget ketika kampus-kampus itu dikuasai kelompok minhum. Kenapa? karena kajian-kajian keagamaan dari kita itu mulai disepelekan, sementara kelompok kelompok itu bersemangat,” terangnya.

Pengendalian yang juga harus diterapkan adalah terhadap pandangan dan pendengaran. Pasalnya, mengutip Imam Ghazali, ia menyampaikan bahwa perbuatan baik atau perbuatan buruk itu ternyata diawali dari dua hal, yakni dari mata yang melihat dan dari telinga yang mendengar.

“Dari pandangan mata dan pendengaran telinga kemudian direkam oleh hati, dikeluarkan oleh mulut, dan diaktualisasikan melalui perbuatan. Itu artinya apa? Kualitas omongan seseorang itu tergantung dari apa yang dia lihat dan apa yang dia dengar,” kata pendakwah asal Yogyakarta itu.

Banyaknya orang pesimis dalam menjalani kehidupan di era pandemi hari ini, menurutnya, memang karena memiliki pandangan pesimis. Hal itu ditengarai karena terlalu banyak berpikir sehingga menimbulkan kecemasan yang justru menjadi ilusi buruk mengenai masa depan.

“Daripada kamu membuang waktu untuk cemas terhadap apa yang belum terjadi mending mempersiapkan diri untuk menghadapi,” ujar dai kelahiran Lampung 39 tahun yang lalu itu.

Gus Miftah juga menegaskan bahwa kader-kader IPNU dan IPPNU harus terus belajar dengan sepenuh niat dalam hati. “Orang yang niat belajar, di manapun, dia akan mendapatkan pelajaran. Namun, orang yang tidak niat belajar, sedang belajar pun, dia tidak akan mendapatkan pelajaran,” katanya. (Albar)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here