Haji Bagi Orang Madura

280

Oleh: Ach. Taufiqil Aziz (Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya)

Haji bagi orang Madura melampaui dari anggapan hanya sebagai menjalankan rukun Islam yang kelima. Haji berkenaan dengan derajat sosial yang samakin tinggi. Orang yang naik haji tidak hanya ada anggapan sebagai bentuk kesalehan dan kekayaan semata, tetapi juga karena panggilan Allah.

Orang yang dipanggil Allah hanya orang orang tertentu saja. Orang orang pilihan yang mendapatkan kasih sayang Allah, begitu keyakinannya.

Tidak semua orang kaya akan dapat menunaikan ibadah suci. Begitupun sebaliknya. Ada banyak juga orang miskin harta tetapi mampu ke Makkah. Keywordnya adalah panggilan Allah. Dari saking sebagai panggilan Allah, ada keinginan dari orang Madura untuk dipanggil Allah di tanah suci.

Entah dari mana asal usulnya, dari anggapan dan persepsi, lahirlah mitos mistos yang berkembang dengan dari remang ke terang benderang: Orang yang berhaji akan menjadi miniatur di hari pembalasan

Orang yang gemar bershodaqah dalam hidupnya dan shodaqahnya diterima, maka saat ke Makkah akan juga sering mendapatkan ganjaran setimpal dengan banyak shodaqoh dari orang orang yang tanpa sebab. Hanya Allah yang tahu dan mengerti.

Demikian juga terhadap orang orang yang berperilaku buruk, maka saat ke Makkah seperti akan dibalas oleh Allah. Muncullah cerita dan desas desus tentang orang orang yang kesulitan dan mendapatkan karma atas perilaku jahatnya.

Mulai dari kesulitan mendapatkan air atas perilaku yang medit dan jahil kepada tetangga, hingga cerita cerita yang tersebar luas terhadap orang yang dipukuli tiba tiba dikarenakan sering memukul orang saat masih di Indonesia.

Orang yang naik haji berharap harap cemas. Harap akan masuk surga dengan segera dipanggil ke haribaannya. Cemas karena dosa dosa yang dilakukan selama di Indonesia akan ditampakkan dan diperlihatkan saat berada di Makkah.

1
2
3
BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here