Haedar Nashir: Muhammadiyah Bukan Gerakan Islam Revivalis

153
Haedar Nashir (Foto: Muhammadiyah)

Jakarta, Muslim Obsession – Mohammad Natsir pernah menyampaikan pandangannya tentang Muhammadiyah. Saat itu ia memberikan sambutan dalam acara Musyawarah Muhammadiyah Wilayah (Muswil) Sulawesi Selatan tahun 1972.

Menurut pendiri Partai Masyumi ini, Muhammadiyah sebagai peolopor gerakan tajdid di Indonesia dan pembaharuan yang dilakukannya berada dalam jalan yang tepat. Sejalan dengan Natsir, para ahli ternama seperti Deliar Noer, James L. Peacock, Mitsuo Nakamura, dan Clifford Geertz menyebut Muhammadiyah sebagai organisasi Islam modern-moderat.

Jejak kemajuan yang dirasakan langsung masyarakat luas menjadi pertimbangan mengapa para peneliti tersebut menempatkan Muhammadiyah sebagai organisasi penting yang menjadi motor pembaharuan pemikiran Islam, khususnya di Indonesia.

Dalam perkembangannya, apalagi saat ini telah menyentuh angka satu abad lebih usia Muhammadiyah, selalu ada kekurangan dan tantangan yang harus dihadapi.

Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir dalam acara Pengajian Ramadan PP Muhammadiyah pada Jumat (16/04) mengajak kepada seluruh kader dan pimpinan untuk muhasabah dan mengembangkan nilai-nilai Islam moderat dan modern di tubuh gerakan Islam ini.

“Menurut penelitian terbaru yang dilakukan Nakamura, Muhammadiyah perlu merevitalisasi gerakannya saat ini. Suka atau tidak suka kita harus mendengerkan kritik orang lain. Beberapa pengamat saat ini menilai Muhammadiyah telah kalah dinamis dibanding dengan NU di dalam ideologi pergerakannya yang kontemporer. Kritik ini perlu menjadi perhatian bersama,” tutur Haedar.

Dalam perkembangannya, sebagian warga Muhammadiyah mengasosiasikan pergerakan Islam modern, reformis, dan tajdid dengan revivalisme Islam. Padahal, kata Haedar, revivalisme Islam lebih bersifat reaktif bukan kreatif, reaksioner bukan pioneer, dan selalu mengembalikan Islam dengan cara pandang yang tekstual.

Contoh dari gerakan Islam revivalis adalah Wahhabiyyah yang memperoleh inspirasi dari Muhammad ibn Abd al-Wahhab di Arabia, dan Shah Wali Allah di India.

Haedar menegaskan bahwa Muhammadiyah tidak berada dalam posisi yang sama dengan kaum revivalis tersebut. Karena itu, tahun 2000 Majelis Tarjih mengoreksi sekaligus menjadi penegas bahwa tajdid bukan hanya purifikasi tetapi juga dinamisasi.

Purifikasi hanya dalam ruang lingkup akidah-ibadah, sementara dalam kehidupan duniawiyah-mualamah dilakukan dengan cara dinamisasi.

“Inilah yang perlu kita maknai bersama, bagaimana mengembalikan tajdid dalam makna yang luas, yang boleh jadi dalam perkembangan tertentu sebagian warga Muhammadiyah mengalami bias atau tidak mampu menangkap semangat tajdid yang luas pada generasi awal persyarikatan,” tegas Haedar. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here