Haedar Nashir: Ini Inti Design Pendidikan Muhammadiyah

333
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir (kiri).
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir (kiri).

Hakarta, Muslim Obsession – Mendidik generasi umat agar menjadi generasi ulul albab, generasi qurotta a’yun, generasi khairu ummah dan berbagai macam idealisasi yang dimiliki, diakui Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir sebagai design besar pendidikan Muhammadiyah.

Menurutnya pendidikan Muhammadiyah adalah pendidikan Islam modern yang memadukan antara dimensi iman dan kepribadian disatu pihak dengan kemajuan dipihak lain.

“Sehingga lahir, kata Kuntowijowo kaum terpelajar muslim yang iman dan kepribadiannya kokoh tetapi berfikiran maju,” kata Haedar, di Jakarta belum lama ini.

Masih dikatakan Haedar, apa yang di tulis Kuntowijoyo pada tahun 1985 mengenai uraian pendidikan Muhammadiyah sangat bagus, sebagai upaya merekontruksi pendidikan Islam Modern.

“Itulah yang kemudian ditulis dalam Revitalisasi Pendidikan Muhammadiyah hasil Muktamar di Yogyakarta tahun 2010, kemudian masuk dalam keputusan tanfidz dan menjadi rujukan Majelis Dikti,” terangnya.

Haedar berharap kedepan pendidikan Muhammadiyah memiliki buku induk Muhammadiyah agar memberi penjelaskan dan memberi gambaran utuh mengenai sistem pendidikan Muhammadiyah.

“Ini penting agar Muhammadiyah tidak tertarik dengan kepentingan pragmatis dalam pendidikan yang hanya mengikuti alur apa adanya sesuai pasar. Kalau pasarnya sedang gemar dengan relovusi 4.0, maka itu yang diikuti. Itu bukan ciri pendidikan Muhammadiyah,” jelas Haedar.

Ia juga memberikan hal-hal yang perlu dilakukan pemimpin PTM agar pendidikan sesuai dengan cita-cita Muhammadiyah.

Haedar menyebut ideologisasi sebagai penanaman nilai-nilai Islam dan ke-Muhammadiyahan menjadi pondasi dari sistem pendidikan dan nilai-nilai Islam dan Kemuhammadiyahan bukan hanya dimensi kognisi pengetahuan saja tetapi harus menjadi afeksi, identitas dan kultur di lingkungan perguruan tinggi Muhammadiyah.

“Jadi Al-Islam Kemuhammadiyahan jangan hanya dikonstruksi parsial hanya menjadi urusan dosen Al- Islam Kemuhammadiyahan dan hanya diajarkan ke mahasiswa saja, tetapi lupa bahwa Al-Islam Kemuhammadiyahan itu juga harus menjadi pondasi dan bangunan dalam proses dan sistem seluruh pendidikan di Muhmmadiyah,” papar Haedar mengingatkan.

Selanjutnya bagaimana pimpinan PTM bisa membangun dan menguatkan dan juga mengembangkan regulasi sistem ke arah yang lebih baik. Regulasi sitem penting termasuk didalamnya tata kelola keuangan yang baik.

Ketiga, memimpin harus mampu bersinergi, dimana sinergi menjadi sangat penting di era sekarang ini.

“Saya percaya kalau semangat taawun (bersinergi) ini diterapkan di peryarikatan dan sesama PTM, Muhammadiyah akan dahsyat. Dan yang terakhir, fungsi strategis dimana memproyeksikan PTM masing-masing untuk naik kelas dan berkembang melampaui radiusnya,” pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here