Haedar Nashir: Indonesia Harus Move-On Rajut Kebersamaan dan Persatuan

363
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir.
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir.

Yogyakarta, Muslim Obsession – Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir mengatakan Indonesia pasca pemilu 2019 harus move-on merajut kebersamaan dan persatuan guna meraih kemajuan dan kejayaan bagi seluruh rakyat.

Ia juga angkat bicara mengenai Keputusan Mahkamah Konstitusi (MK). Menurutnya ptusan MK telah menjadi rujukan konstitusional bagi para pihak yang bersengketa  dalam pemilu pilpres dan bagi segenap komponen bangsa.

Haedar mengucapkan selamat kepada pasangan Jokowi-Ma’ruf atas terpilihnya sebagai Presiden dan Wakil Presiden RI 2019-2024 dengan amanat yang sangat berat.

Ucapan selamat juga dialamatkan kepada Prabowo-Sandi yang menunjukkan sikap legowo sebagai  contoh  keteladanan politik bangsa.

“Tugas dan tantangan bersama bangsa Indonesia saat ini dan ke depan sangatlah berat di berbagai bidang kehidupan yang memerlukan tekad dan kesungguhan politik yang tinggi bagi pemegang mandat rakyat lebih dari kemenangan itu sendiri,” kata Haedar, di Yogyakarta, Jumat (28/6/2019).

Menurutnya saat ini Indonesia juga memerlukan kebersamaan dari seluruh kekuatan nasional. Karenanya politik partisan 01 dan 02 sudah berakhir serta tidak perlu diperpanjang dalam isu dan kepentingan apapun, yang ada adalah satu keluarga besar Indonesia.

“Presiden dan Wakil Presiden terpilih adalah untuk semua dan bukan untuk satu golongan pemilih dan pendukungnya saja, sehingga harus mengayomi dan menjadi pemimpin seluruh rakyat Indonesia,” ujarnya.

Haedar mengajak pasca keputusan MK bagi seluruh rakyat dan kekuatan bangsa untuk melangkah bersama meraih masa depan Indonesia berkemajuan guna menyelesaikan masalah-masalah besar bangsa guna mewujudkan cita-cita nasional yang kian berat dan penuh tantangan.

“Tidak perlu eforia dalam kemenangan karena masalah dan tantangan Indonesia sangatlah berat dan kompleks. Jauhi pula keterbelahan bangsa akibat sikap politik yang negatif dan ekses dari pemilu. Jangan sampai Indonesia terkapling-kapling dalam primordialisme dan pengkutuban politik, agama, dan golongan yang menyebabkan lemahnya persatuan Indonesia,” tutup Haedar. (Way)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here