Haedar: Kembalikan Islam pada Nilainya yang Luhur dan Fundamental

384
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir (Foto: Muhammadiyah)

Bantul, Muslim Obsession – Diutarakan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir bahwa dalam beberapa bulan terakhir perhatian masyarakat Indonesia benar-benar disibukkan oleh beragam isu politik.

“Banyak dari publik yang kemudian menjadi terkotak-kotak berdasarkan kelompok mana yang mereka dukung. Kondisi ini menimbulkan banyak ketegangan yang timbul dalam keseharian mereka dan tidak jarang membesar menjadi konflik,” tutur Haedar pada Senin (11/2/2019) dalam Seminar Pra Tanwir Muhammadiyah yang mengangkat tema Beragama yang Mencerahkan Dalam Perspektif Politik Kebangsaan, di Ruang Sidang Gedung AR Fachruddin A Kampus Terpadu Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).

Keadaan tersebut, menurut Haedar menjadi tanda bahwa masyarakat memerlukan pencerahan agar mereka dapat ‘melihat’ dengan lebih baik.

Sebagai sebuah agama, Islam hadir sebagai pencerahan yang dicerminkan melalui ayat pertama yang diturunkan dalam wahyu kepada Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam. ‘Iqra’, ayat tersebut turun ketika Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam ketika sedang risau terhadap kondisi masyarakat Arab saat itu.

“Keadaan masyarakat Arab saat itu dapat dideskripsikan dengan kata dzulumat yang diartikan sebagai kegelapan baik dalam kultural hingga struktural. Ayat Iqra’ ini kemudian muncul sebagai tanwir, pencerah, yang memberikan cara untuk keluar dari kegelapan tersebut,” urai Haedar.

Ayat tersebut memiliki inti untuk menegakkan ilmu dan akal pikiran.

“Dari pemaknaan tersebut kemudian memunculkan berbagai konsep seperti tafakkur, tadabbur dan lainnya. Pemaknaan dan penerapan dari Iqra’ tersebut yang kemudian saya rasa sangat berkurang di masyarakat kita saat ini,” jelasnya, melalui siaran pers Muhammadiyah.

Haedar turut menyayangkan, melihat realitas saat ini bahwa ayat-ayat seringkali hanya dikutip untuk kepentingan tertentu atau bahkan digunakan untuk menyulut kemarahan, kebencian dan pertikaian.

“Bukan hanya pada isu sosial politik, tapi juga pada aspek kehidupan kita sebagai orang beragama, kita jadi intoleran terhadap perbedaan. Padahal ketika Islam dimaknai secara kontemplatif, agama ini menuntun kita untuk menjadi pribadi yang berpikir. Ini yang ingin kita lakukan, mengembalikan Islam pada nilainya yang luhur dan fundamental,” papar Haedar.

Dalam kehidupan orang yang beragama, hal yang paling dibenci oleh Tuhan adalah inkonsistensi.

“Dalam Surat Ash-Shaff ayat 3 Allah memperingatkan bahwa hal yang paling dibenci adalah orang yang mengatakan apa yang tidak mereka lakukan, artinya ketika anda mengaku seorang Muslim, konsistenlah. Pahami agama anda melalui perenungan yang dalam, dan bukan hanya terbawa sumbu pendek yang mudah disulut untuk kepentingan tertentu,” pungkas Haedar. (Vina)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here