Habib Luthfi Minta Masyarakat Indonesia Mau Belajar dari Sebutir Nasi

208
Habib Luthfi bin Yahya (Foto: jatman)

Jakarta, Muslim Obsession – Habib Luthfi bin Yahya punya pengalaman berharga takkala ia berguru dengan seorang yang alim. Ia menyatakan, banyak hal-hal yang bisa menjadi pelajaran berharga saat dirinya menimba ilmu bersama gurunya.

Misalnya kata dia, ketika suatu hari ia melihat gurunya berpakaian rapi ketika hendak makan. Ia pun merasa penasaran dan bertanya kepada gurunya tentang bagaimana adab atau tata krama orang ketika mau makan.

Gurunya menjawab bahwa di antara tata krama orang ketika makan adalah berpakaian rapi. Hal ini adalah untuk menghormati yang memberi rezeki.

“Kalau sudah menghormati kepada yang memberi rezeki yang muncul syukur, yang muncul akhlak, yang muncul adab. Mau menyalahkan, ndak bisa,” kata Habib Luthfi, Ahad (27/12/2020).

Gurunya lalu menjelaskan bahwa satu butir nasi yang dimakan itu merupakan rezeki sangat luar biasa dari yang Kuasa. Dengan sebutir nasi menunjukan manusia sangat lemah. Karena untuk menciptakan sebutir nasipun manusia tidak ada yang mampu.

Hadirnya satu butir nasi pun tidak datang begitu saja. Banyak andil orang lain dalam proses hadirnya sebutir nasi, sehingga bisa dimakan.

Sebagai wujud syukur ini, doa mau makan pun mengandung makna yang luar biasa karena di dalamnya tidak hanya mendoakan diri sendiri, namun mendoakan orang banyak dengan dhomir atau kata ganti ‘kita’, bukan ‘saya’.

“Menggunakan harful jamak, tidak menggunakan mufrad. Artinya ‘kami’ atau ‘kita’, tidak menggunakan kalimah ‘saya’. Allahumma barik lana. ‘Ya Allah berkahilah kami atau kita semuanya’. Yang nyangkul, yang matun (merawat) dan sebagainya,” jelas Anggota Dewan Pertimbangan Presiden ini.

Dari kisah ini, Rais ‘Aam Idarah Aliyah Jami’yah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah (JATMAN) ini pun mengajak bangsa Indonesia untuk meningkatkan rasa syukur sekaligus meningkatkan nasionalisme atas karunia Allah SWT berupa Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Hadirnya NKRI dan berkibarnya bendera merah putih tidak datang begitu saja. Hal itu merupakan karunia Allah dan berkat andil perjuangan para pejuang. Sehingga ia mengajak seluruh elemen bangsa untuk belajar dari perjuangan para pendiri bangsa dalam mewujudkan kemerdekaan ini.

“Setiap anak yang taat pada orang tua, pasti tahu jerih payahnya bagaimana melihat orang tua mencari sesuap nasi dan berharap anaknya akan bisa lebih dari dia,” jelasnya pada Silaturahmi Nasional Lintas Agama di Jakarta bertajuk Memperkokoh Persatuan dan Kesatuan Bangsa dalam Kebinekaan.

Ia mengajak, jangan sampai setiap elemen bangsa di Indonesia terlena dan lupa dengan kondisi kenikmatan berbangsa dan bernegara yang merupakan andil banyak pejuang dengan pengorbanan jiwa dan raga. (Al)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here