Habib Ali Al-Jufri: Soal Perdebatan Natal, Jangan Saling Menghujat

562

Jakarta, Muslim Obsession –  Memasuki bulan Desember, perdebatan tentang mengucapkan selamat natal selalu menjadi isu hangat yang banyak dibicarakan orang. Ada salah satu pihak yang melarang, tapi di sisi lain, ada juga pihak yang membolehkan.

Menanggapi hal tersebut, Habib Ali Zainal Abidin Al-Jufri meminta agar semua tidak berbuat saling menghujat satu sama lain yang berbeda pandangan dalam hal ucapan selamat natal.

“Jangan kita saling menyalahkan menghujat satu sama lain,” kata Habib Ali Zainal, seperti dikutip dari NU, Kamis (19/12/2019).

Menurutnya, ucapan tahniah Natal merupakan persoalan khilafiyah, bukan hal yang menjadi suatu kesepakatan atas keharaman atau kebolehannya. Masing-masing memiliki dasar argumentasinya.

Habib Ali Zainal menilai memang, sebagian besar ulama Ahlussunnah wal Jamaah menyebut haram hukum mengucapkan selamat natal kepada Nasrani.

Namun, Habib Ali sendiri berpegang teguh pada pandangan yang membolehkan pengucapan tahniah kepada mereka. Bahkan, ia akan mengucapkan hal tersebut pada tanggal 25 Desember nanti.

“Bagi yang menganggap hal tersebut merupakan sesuatu yang diharamkan, tinggal tidak melakukannya saja atau meninggalkan hal tersebut saja tanpa harus memperdebatkan mereka yang melakukannya,” jelasnya.

Habib Ali membantah pernyataan Ibnul Qayyim yang mengklaim bahwa haram mengucapkan selamat natal itu ijmak para ulama. Pasalnya, dalam mazhab Hambali sendiri yang diikuti oleh Imam Ibnul Qayyim, terdapat tiga pandangan, yakni boleh, makruh, dan haram sebagaimana yang dinyatakan oleh Imam Mardawi dalam kitabnya Al-Inshaf.

Artinya, perbedaan pandangan terhadap hal tersebut merupakan sesuatu yang kuat, muktabar. “Tidak boleh kita mengingkari suatu perkara dimana disitu khilafnya muktabar,” tegasnya.

Habib Ali menjelaskan bahwa larangan ucapan selamat natal karena ada unsur mengandung persetujuan terhadap kekafiran atau keyakinan mereka umat Nasrani. Ia menegaskan bahwa pandangan demikian adalah pemahaman orang dahulu.

“Di masa itu orang yang menyatakan selamat mengakui merestui akidah keyakinan itu,” katanya.

Tentu saja, katanya kalau kita menyatakan selamat kepada mereka dengan hati kita merestui kekafiran maka itu kufur. Namun pengucapan selamat di masa kini tidak demikian.

Seorang Muslim, misalnya, menyatakan ke Kristiani setiap tahun bertambah baik. Hal demikian tentuk bukanlah suatu bentuk pengakuan terhadap akidah yang berlainan. Hal demikian tidak saja berlaku di Eropa, tapi juga di negeri lainnya.

Mesir, misalnya. Uskup di sana mengucapkan selamat Maulid Nabi kepada Syekh Al-Azhar. Hal ini, menurutnya, bukan berarti Uskup tersebut mengakui kenabian Muhammad SAW. “Ucapan selamat di masa kita bukan mengakui akidah mereka. Ucapan selamat di masa kita sebagai bentuk kebajikan,” katanya.

Lebih dari sekadar mengucapkan selamat natal, Mazhab Syafi’i membolehkan seorang Muslim laki-laki menikahi perempuan Kitabiyah. Di antara hak istri adalah mendapatkan pengantaran suami untuk beribadah di gereja.

“Mengucapkan selamat natal itu boleh dilakukan. Hal ini juga disampaikan oleh Syekh Al-Azhar dan Darul Ifta Mesir, juga Syekh Abdullah bin Bayah, serta banyak ulama lainnya,” tutup Habib Ali Zainal. (Way)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here