H. Buchari Tamam: Ketika Allah Membayar Kontan Doa dan Sedekah

744

Birrul Walidain
Ketika PRRI sudah terdesak, Buchari tinggal di satu desa kecil, Batu Kambing, Lubuk Basung, sekitar 60 kilometer dari Bukittinggi. Buchari memboyong seluruh keluarganya — ayah, ibu, istri, dan anak-anak– ke desa kecil itu.

Di Batu Kambing, hari pasarnya ialah Sabtu. Setiap Jumat, istri Buchari bersiap pergi ke pasar, berbelanja untuk bekal satu pekan.

Pada suatu Kamis, Buchari tidak punya uang. Bahan makanan pun habis. Buchari gelisah! Bukan soal ketiadaan makanan yang dia khawatirkan, melainkan keadaan orang tuanya yang sedang sakit.

Sebagai orang tua yang sedang sakit, mereka sangat peka terhadap perubahan sekecil apapun. Buchari takut, jika kedua orang tuanya tahu hari Sabtu istrinya tidak ke pasar, mereka akan tergoncang dan panik yang dapat berakibat memperparah penyakit keduanya.

Tengah hari, seusai shalat Dzuhur di atas sebuah batu besar, Buchari berdoa sambil menangis. Menangis karena cinta kepada ayah dan ibu. “Ya Allah, jangan sampai besok orang tua saya panik karena istri saya tidak ke pasar,” doa Buchari singkat.

Belum lagi Buchari bergeser dari batu, terdengar suara memanggil namanya. Buchari bergegas menemui orang yang memanggilnya. Kiranya staf M. Natsir, Menteri Agama PRRI. “Pak Buchari, ini ada kiriman dari Pak Natsir.”

Buchari menerima kiriman itu, dan membukanya. Ternyata uang beberapa ratus ribu rupiah.

Doa tulus Buchari untuk ayah dan ibunya dikabulkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Di lain peristiwa, Buchari dipanggil oleh M. Natsir. Ditemani seorang teman, Buchari berangkat berbekal uang lima puluh rupiah.

Di tengah perjalanan, Buchari “dihadang” seorang teman. Teman itu mengenalkan seorang lelaki tua yang sedang sakit, dan baru saja ditinggal mati oleh istrinya. “Pak Buchari, tolonglah pikirkan bapak tua dengan anaknya ini,” ujar sang teman.

Buchari bimbang. Uang di tangan hanya lima puluh rupiah, sedangkan orang tua itu harus dibantu. Akhirnya uang itu dibagi dua. Rp 25,00 dia serahkan kepada bapak tua yang sedang sakit itu, sisanya dia bawa sebagai bekal.

Sesudah itu Buchari melanjutkan perjalanan dengan dada terasa lapang karena telah membantu orang yang harus dibantu.

Belum jauh berjalan, dari atas bukit terdengar suara memanggil Buchari. Seorang utusan Sjafruddin datang. “Pak Sjaf kirim uang,” kata utusan itu.

“Untung kita bertemu di sini sehingga saya tidak perlu bersusah payah pergi ke tempat Pak Buchari,” kata utusan itu lagi.

Sesudah sang utusan pergi, Buchari membuka amplop kiriman. Ternyata Rp 500,00.

Allah subhanahu wa ta’ala membalas sedekah Buchari dua puluh kali lipat. Kontan!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here