Gus Sholah: Saya NU yang Masyumi

369
Almarhum Gus Sholah.

Oleh: Lukman Hakiem (Peminat Sejarah, dan Sekretaris Majelis Pakar Persaudaraan Muslimin Indonesia/Parmusi)

INNA LILLAHI WA INNA ILAIHI. Bangsa Indonesia kembali kehilangan salah seorang putra terbaiknya.

Tokoh senior Nahdlatul Ulama dan pemimpin Pondok Pesantren Tebuireng, Jawa Timur, K.H. Salahuddin Wahid wafat pada 2 Februari 2020.

Menurut H. Aboebakar (1957:160), Salahuddin Wahid yang akrab dengan sapaan Gus Sholah terlahir dengan nama Sholahuddin Al-Ayyubi di Denanyar, Jombang, pada 11 September 1942 sebagai putra ketiga K.H. A. Wahid Hasjim.

K.H.A. Wahid Hasjim adalah Pahlawan Nasional yang tercatat sebagai salah seorang penandatangan Piagam Jakarta 22 Juni 1945, pernah menjabat Ketua Umum Pengurus Besar NU, dan Menteri Agama di masa RIS dan RI.

 

Hubungan NU dengan Masyumi

SETELAH selesai menulis naskah buku Biografi Mohammad Natsir saya terpikir untuk meminta endorsement dari beberapa tokoh. Di antaranya yang –menurut saya– wajib diminta ialah Gus Sholah.

Natsir yang biografinya baru selesai saya tulis adalah tokoh dan Ketua Umum Partai Masyumi (1949-1958). Di masa kepemimpinan Natsir, NU yang pada 7-8 November 1945 turut mendirikan Masyumi sebagai satu-satunya wadah perjuangan politik umat Islam Indonesia, keluar dari Masyumi dan menyatakan diri sebagai partai politik.

Fakta keluarnya NU dari Masyumi, menyebabkan banyak kalangan menyimpulkan bahwa antara NU dengan Masyumi terbentang jarak yang tidak mungkin dijembatani.

Melihat berbagai fakta sesudah NU keluar dari Masyumi, kesimpulan itu tidak sepenuhnya benar.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here